Indonesia Perkuat Strategi Sawit Berkelanjutan di Forum Green Policy China

oleh -2.401 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Sany Anthony, Wakil Ketua GAPKI sedang dialog bisnis dengan buyer China.

InfoSAWIT, NANNING – Indonesia terus menguatkan posisi sebagai produsen sawit berkelanjutan melalui forum internasional Dialogue For China’s Green Policy II Indonesia yang digelar di sela CAEXPO–CABIS 2025 di NICEC, Guangxi. Forum ini menghadirkan tokoh-tokoh kunci dari sektor sawit nasional dan mitra internasional, khususnya Tiongkok, untuk membahas strategi ekspor, inovasi teknologi, dan komitmen keberlanjutan.

Wakil Ketua Komite Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok Daerah Otonomi Zhuang Guangxi, Huang Junhua, menekankan pentingnya kemitraan erat antara Indonesia dan China. Sementara itu, Wakil Direktur Jenderal Kantor Anti-Penyelundupan Guangxi, Fu Jinming, turut hadir memperkuat dukungan bagi hubungan dagang kedua negara.

Forum ini diinisiasi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang aktif mengkampanyekan sawit berkelanjutan. Dalam pidato kunci, Deputi Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menyoroti peran vital Tiongkok dalam perdagangan sawit Indonesia. “Pada semester I 2025, China menempati posisi tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia dengan volume sekitar 1,74 juta ton, atau 14 persen dari total ekspor nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Minggu (21/9/2025).

BACA JUGA: Pasaman Barat Dorong Perusahaan Sawit Segera Urus HGU

Meski demikian, ia menegaskan Indonesia tidak sekadar berorientasi pada volume ekspor. “Kita harus mendorong hilirisasi, inovasi, dan praktik pertanian ramah lingkungan agar produk sawit Indonesia semakin berdaya saing di pasar global,” tambahnya.

Sany Anthony, Wakil Ketua Umum I GAPKI, mengingatkan bahwa pasar internasional kini menuntut komoditas yang tak hanya kompetitif dari sisi harga, tetapi juga bersertifikat keberlanjutan. “Inilah peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama ekspor, mendukung sertifikasi ISPO dan RSPO, serta menambah nilai produk sawit melalui hilirisasi,” ujarnya.

Data BPS mencatat ekspor sawit Indonesia pada semester I 2025 mencapai 12,4 juta ton dengan nilai sekitar US$13,53 miliar. Dari jumlah itu, 1,74 juta ton diserap pasar China. Namun, sepanjang 2024 ekspor sawit Indonesia ke China turun tajam menjadi 4,48 juta ton dari 7,73 juta ton pada 2023. Penurunan ini mempertegas urgensi strategi baru, termasuk diversifikasi pasar, hilirisasi, dan peningkatan praktik keberlanjutan.

BACA JUGA: Jam yang Tak Pernah Dihitung, Perempuan dan Beban Ganda di Perkebunan Sawit

Malaysia disebut menjadi pesaing utama dengan langkah agresif membuka fasilitas pengolahan dan tangki timbun langsung di China, memperkuat posisinya di pasar negeri Tirai Bambu.

Konjen RI di Guangxi, Ben Perkasa Drajat, menyebut forum ini strategis karena memberi ruang besar bagi kolaborasi. “Tahun lalu forum serupa memberikan hasil signifikan. Tahun ini, fokus diarahkan pada joint venture, transfer teknologi, dan kerja sama riset antara Indonesia dan China,” katanya.

Melalui forum Dialogue For China’s Green Policy II Indonesia, pemerintah berharap dapat memperkuat akses pasar sawit ke China, mempercepat hilirisasi produk, sekaligus memastikan praktik pertanian ramah lingkungan menjadi fondasi masa depan industri sawit nasional. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com