InfoSAWIT, KALIMANTAN TENGAH — Konsep integrasi sawit-sapi kian mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Agung Suganda, menegaskan bahwa skema ini menjadi solusi cerdas untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus kesejahteraan peternak.
Salah satu contoh nyata hadir di Sulung Ranch, Kalimantan Tengah, milik Citra Borneo Indah (CBI) Group. Haji Rasyid, pemilik CBI, menyebut integrasi sawit-sapi bukan hanya memberi manfaat ganda, tetapi juga menghadirkan “bonus” berupa pupuk organik gratis dari kotoran sapi yang langsung menyuburkan tanaman sawit.
Sulung Ranch sudah mengembankan integrasi sawit-sapi sejak 2008, menjadikannya salah satu pionir di Indonesia. Di lahan ini, berbagai jenis sapi dilepasliarkan di bawah tegakan sawit, mulai dari sapi Bali, brahman, limousin, brangus, hingga simmental. Sistem pemeliharaannya sederhana namun efektif, sapi digembalakan secara rotasi tiap dua bulan dengan mengandalkan rumput alami di sekitar perkebunan.
BACA JUGA: LOKADANA, Arisan Masyarakat Sipil untuk Menjaga Kedaulatan Gerakan
“Rumput yang tumbuh di bawah pohon sawit sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan. Kami hanya memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa tambahan pakan lain. Dengan sistem rotasi, lahan tetap terjaga dan sapi pun sehat,” ungkap H. Rasyid dikutip InfoSAWIT dari Instagram Ditjen PKH, kementan, Sabtu (4/10/2025).
Lebih lanjut, infrastruktur sederhana seperti pagar kawat beraliran listrik tenaga surya digunakan untuk mengatur pergerakan sapi di padang penggembalaan. Metode ini memastikan efisiensi tanpa harus menambah beban biaya besar.
Model integrasi ini diharapkan dapat diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia. Selain ramah lingkungan dan efisien, sistem sawit-sapi terbukti memberi nilai tambah ekonomi, mulai dari daging, pupuk organik, hingga keberlanjutan perkebunan. (T2)
