Hapus Rafaksi Gabah: Petani Untung, Bulog Bingung?

oleh -15.045 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi gabah.

Anomali di Pasar Beras dan Efek Domino HET

Ironisnya, di tengah surplus, harga beras justru merangkak naik. Biaya produksi meningkat, sementara bahan baku gabah kini dibeli minimal Rp6.500 per kilogram sesuai dengan HPP. Akibatnya, banyak penggilingan kecil gulung tikar — hanya pemain bermodal besar yang mampu bertahan.

Data Panel Harga Bapanas menunjukkan, sepanjang Juli 2025 harga beras medium rata-rata Rp12.990 per kilogram, dan premium Rp14.218. Keduanya memang masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), namun kenaikan ini mencerminkan distorsi pasar.

Distorsi tersebut melahirkan dead weight loss (DWL) — kerugian efisiensi yang tak dinikmati produsen maupun konsumen. Ketika pemerintah membatasi harga, produsen menahan stok, sementara permintaan tetap tinggi. Akibatnya, konsumen merasa pasar kekurangan beras, dan harga pun perlahan naik menuju titik keseimbangan baru — bahkan bisa melampaui HET itu sendiri.

BACA JUGA: Mentan Amran: Alihkan 5,3 Juta Ton CPO untuk B50, Indonesia Bisa Stop Impor Solar

 

Ekspor yang Kurang Kompetitif dan Peran Bulog yang Terbatas

Dalam kondisi surplus, ekspor seharusnya menjadi solusi logis. Sayangnya, beras Indonesia belum kompetitif di pasar global. Kualitasnya masih di bawah standar — kadar air, kebersihan, dan kadar patahnya belum memenuhi syarat internasional. Harganya pun 30–50 persen lebih mahal dibandingkan beras Thailand atau Vietnam.

Sikap protektif pemerintah terhadap ekspor juga memperburuk keadaan. Ketika fokus hanya pada ketahanan pangan domestik, pasar ekspor menjadi tidak stabil. Negara mitra kehilangan kepercayaan, dan eksportir sulit menjalin kontrak jangka panjang.

Di sisi lain, Bulog pun menghadapi keterbatasan. Dari kapasitas maksimal 3,8 juta ton, gudang Bulog kini sudah terisi sekitar 2 juta ton beras. Artinya, masih ada 1,8 juta ton ruang tersisa — tapi tak cukup untuk menyerap seluruh surplus gabah petani. Apalagi, kualitas beras yang diserap tahun ini dilaporkan kurang baik.

BACA JUGA: MADANI dan Satya Bumi Serahkan “Sahabat Pengadilan” ke MK: Soroti Dampak PSN terhadap Hutan dan Iklim

 

Menata Ulang Strategi Perberasan Nasional

Bulog tetap memiliki peran vital dalam ekosistem perberasan Indonesia. Namun untuk menjaga stabilitas, perlu langkah konkret: memperluas kapasitas gudang, memperbaiki manajemen stok, serta memperkuat kerja sama lintas sektor untuk operasi pasar dan bantuan sosial.

Lebih jauh dari itu, pemerintah harus berani meninjau kembali larangan ekspor beras. Selama kebijakan masih bersifat tambal-sulam dan reaktif, sistem pangan nasional akan terus rentan terhadap gejolak harga dan ketimpangan rantai nilai.

Perubahan kecil pada sebuah kebijakan mungkin tampak sepele. Tapi seperti pepatah di awal tulisan ini, the devil is in the detail. Ketika detail diabaikan, kebijakan yang niatnya mulia bisa berbalik arah — dan yang paling dulu merasakan dampaknya, seperti biasa, adalah petani kecil di pelosok negeri. (*)

Penulis: Rama Kurniawan / Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi Pertanian IPB

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com