Ia menegaskan, digitalisasi ini bukan sekadar formalitas kepatuhan, tetapi strategi untuk membuka peluang pasar yang lebih luas. “Alat-alat ini membantu anggota mengubah tuntutan regulasi menjadi peluang strategis — untuk memperkuat akses pasar ke Eropa dan kawasan lainnya,” ujar Joseph.
Komitmen Layanan Lebih Kuat
Selain digitalisasi, RSPO juga memperkuat fondasi keberlanjutan dengan penerapan standar baru Prinsip & Kriteria (P&C) 2024 serta Standar Petani Kecil Independen yang mulai berlaku bulan ini. Sementara revisi Supply Chain Certification Standard dijadwalkan disahkan September mendatang.
“Standar baru ini lebih sejalan dengan kebutuhan pasar dan regulasi saat ini, serta memiliki perlindungan lebih kuat bagi hutan, hak asasi manusia, dan petani kecil,” jelasnya.
BACA JUGA: Ekspor Indonesia Naik 8,14 Persen hingga September 2025, Minyak Nabati Jadi Penopang Utama
Mengakhiri pidatonya, Joseph menegaskan tekadnya untuk membawa RSPO ke tingkat yang lebih tinggi. “Kami telah menyiapkan fondasinya. Kini, saya dan tim ingin membuktikan bahwa sistem RSPO dapat memberikan nilai dan layanan yang belum pernah ada sebelumnya,” pungkasnya. (T2)
