InfoSAWIT, JAKARTA — Kinerja ekspor Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (3/11/2025), nilai ekspor nasional periode Januari–September 2025 tercatat mencapai US$209,81 miliar, atau meningkat 8,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Kenaikan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh kuat sebesar 9,57 persen, mencapai US$199,77 miliar, sementara ekspor migas relatif stagnan. Kinerja positif ekspor nonmigas menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan dan komoditas primer Indonesia masih mampu bersaing di pasar internasional.
Pada bulan September 2025 saja, nilai ekspor Indonesia mencapai US$24,68 miliar, naik 11,41 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas tercatat sebesar US$23,68 miliar, tumbuh 12,79 persen secara tahunan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 31 Oktober – 6 November 2025 Turun Rp 39,71 per Kg
BPS mencatat bahwa dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas utama Indonesia, hampir seluruhnya mencatatkan peningkatan nilai ekspor, kecuali bahan bakar mineral yang turun cukup tajam sebesar US$5,93 miliar atau 20,39 persen. Sebaliknya, komoditas lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk minyak sawit dan turunannya, menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan lonjakan nilai ekspor mencapai US$6,90 miliar atau 37,36 persen.
Capaian tersebut sekaligus menegaskan peran penting industri kelapa sawit dalam menjaga surplus perdagangan nasional. Permintaan global terhadap minyak nabati yang tinggi, terutama dari India, Tiongkok, dan Eropa, menjadi faktor pendorong utama peningkatan ekspor dari sektor ini.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai ekspor mencapai US$46,47 miliar, disusul oleh Amerika Serikat sebesar US$23,03 miliar, dan India sebesar US$14,02 miliar. “Ketiga negara tersebut berkontribusi hingga 41,81 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia,” demikian catat BPS dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Selasa (4/11/2025).
BACA JUGA: RT2025: RSPO Ajak Dunia Sawit Global Wujudkan Keberlanjutan dalam Aksi
Selain itu, ekspor ke kawasan ASEAN tercatat mencapai US$38,53 miliar, sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) berada di angka US$14,46 miliar. Data ini menunjukkan diversifikasi pasar ekspor Indonesia yang semakin meluas di tengah dinamika perdagangan internasional.
Jika dilihat dari sektor produksinya, ekspor hasil industri pengolahan tumbuh signifikan sebesar 17,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan melonjak hingga 34,33 persen, menandakan peningkatan kontribusi dari produk-produk primer dan berkelanjutan. Di sisi lain, ekspor hasil pertambangan dan sektor lainnya justru turun 23,70 persen, dipicu oleh penurunan harga batu bara dan mineral global.
Menurut provinsi asal barang, Jawa Barat mencatat nilai ekspor terbesar selama sembilan bulan pertama 2025 dengan US$28,89 miliar atau 13,77 persen dari total nasional. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dengan US$22,19 miliar (10,58 persen), dan Kepulauan Riau dengan US$17,53 miliar (8,35 persen).
BACA JUGA: Sawit Berkelanjutan Tak Bisa Sendiri, SD Guthrie Tunjukkan Kuncinya
Peningkatan ekspor ini memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah tekanan inflasi global dan pelemahan permintaan di beberapa negara tujuan utama. BPS menilai, tren ekspor yang solid terutama dari sektor minyak nabati, industri pengolahan, dan pertanian dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal terakhir tahun ini. (T2)
