Petani Sawit Swadaya Pertanyakan Komitmen Buyer di GA RSPO

oleh -2.708 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Rukaiyah Rafiq, Kepala Sekretariat Yayasan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi).

InfoSAWIT, JAKARTA – Pertemuan General Assembly (GA) Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) tahun ini menghadirkan dinamika baru yang menarik. Untuk pertama kalinya, suara petani terdengar begitu kuat di tengah forum yang biasanya didominasi oleh perwakilan industri dan lembaga internasional. Sekitar 50 petani hadir di pertemuan tersebut, di antaranya 32 berasal dari Indonesia. Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara, tetapi membawa pesan penting: mempertanyakan kembali komitmen para pembeli (buyer) terhadap produk sawit bersertifikat RSPO.

Setelah lebih dari satu dekade berjuang di bawah payung sertifikasi RSPO, petani kecil kini mulai merasakan ketimpangan antara semangat di atas kertas dan realitas di lapangan. Para petani, termasuk Ardiansyah dari Jambi dan Tri Arianto dari Kalimantan Barat, menyinggung kecenderungan menurunnya pembelian kredit RSPO oleh para buyer. Padahal, dari tahun ke tahun, volume kredit yang dihasilkan oleh petani terus meningkat seiring dengan bertambahnya kelompok tani yang berhasil memperoleh sertifikat RSPO.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam. Sistem kredit RSPO sejatinya dirancang untuk memberikan nilai tambah bagi petani bersertifikat, sekaligus menjadi insentif bagi mereka untuk terus menjaga standar keberlanjutan. Melalui platform PRISMA, petani dapat memperdagangkan nilai keberlanjutan dari hasil kebunnya kepada perusahaan pembeli di berbagai negara. Namun ketika pasar tidak lagi menunjukkan minat, sistem ini menjadi stagnan. Tidak adanya permintaan berarti tidak ada insentif, dan tanpa insentif, keberlanjutan di tingkat petani akan kehilangan daya dorongnya.

BACA JUGA: ISPO Jadi Kunci Daya Saing Sawit Rakyat Kalteng di Pasar Global

Bagi petani, mempertahankan sertifikat RSPO bukan perkara mudah. Ada biaya audit, pelatihan, pendampingan teknis, hingga perbaikan praktik budidaya yang semuanya membutuhkan komitmen jangka panjang. Tanpa dukungan pasar yang konsisten, beban ini bisa menjadi terlalu berat. Akibatnya, tidak sedikit petani yang mulai mempertimbangkan untuk mundur dari skema RSPO. Jika hal ini terjadi, maka seluruh upaya membangun rantai pasok sawit berkelanjutan yang inklusif bisa terancam mundur.

RSPO selama ini dikenal sebagai wadah multipihak yang berkomitmen mendorong transformasi industri sawit menuju praktik yang lebih ramah lingkungan, sosial, dan ekonomi. Namun, keberlanjutan sejati tidak akan tercapai jika hanya satu pihak yang aktif menjalankan komitmen. Petani telah menunjukkan langkah konkret: mengubah cara tanam, menjaga konservasi, dan memperbaiki tata kelola. Kini, giliran buyer yang harus menepati janji untuk tetap mendukung produk bersertifikat dan menjaga keseimbangan dalam rantai nilai.

Dalam forum Roundtable (RT) RSPO 2025 yang digelar di Kuala Lumpur, tema besar “Building the Next 20: Sustainability in Action” menjadi pengingat penting bagi seluruh anggota RSPO. Setelah dua puluh tahun perjalanan, RSPO tidak lagi bisa hanya berbicara tentang komitmen — sudah saatnya membuktikan aksi nyata. Tema tersebut mengandung pesan mendalam: masa depan keberlanjutan bergantung pada langkah bersama, bukan pada retorika semata.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (7/11), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah

Petani seperti Ardiansyah dan Tri Arianto adalah representasi dari ribuan petani kecil di seluruh Indonesia yang telah menaruh harapan besar pada sistem ini. Mereka telah berinvestasi bukan hanya dengan uang, tetapi juga dengan waktu, tenaga, dan kepercayaan. Keberhasilan mereka seharusnya menjadi bukti bahwa petani kecil mampu menjadi bagian dari solusi global, bukan sekadar objek kebijakan. Namun, ketika pasar justru melemahkan dukungan, kepercayaan itu mulai terkikis.

Krisis kepercayaan ini berpotensi mengancam legitimasi keberlanjutan itu sendiri. Sebab, tanpa petani, rantai pasok sawit berkelanjutan tidak akan pernah lengkap. Keberlanjutan tidak bisa hanya dijalankan oleh korporasi besar yang memiliki sumber daya melimpah. Ia harus tumbuh dari bawah, dari kebun-kebun rakyat yang menjadi ujung tombak pasokan minyak sawit dunia. Dan untuk itu, peran buyer menjadi krusial: bukan hanya sebagai konsumen akhir, tetapi sebagai mitra yang berkomitmen secara moral dan ekonomi.

Saat ini, yang dibutuhkan bukan sekadar deklarasi komitmen baru, melainkan pembuktian. Buyer harus memastikan bahwa setiap klaim keberlanjutan yang mereka cantumkan di label produk benar-benar berakar pada praktik yang adil dan berkelanjutan di lapangan. Dukungan terhadap kredit RSPO petani bukanlah kemurahan hati, melainkan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga integritas sistem keberlanjutan global.

BACA JUGA: Sidang Uji Materi UU Cipta Kerja di MK, Pemerintah Belum Siap Beri Keterangan

GA RSPO tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah perjalanan industri sawit berkelanjutan. Petani telah berbicara — bukan dengan tuntutan berlebihan, melainkan dengan keinginan agar komitmen yang pernah disepakati dapat dijalankan secara konsisten. Sebab, tanpa aksi nyata di tingkat pasar, seluruh upaya petani akan terasa sia-sia.

Keberlanjutan yang sejati hanya akan tercapai jika setiap pihak berani menepati janji. Petani telah melangkah dengan segala keterbatasannya. Kini, masa depan sawit berkelanjutan bergantung pada apakah buyer berani melangkah bersama mereka, atau memilih berhenti di titik komitmen yang tak lagi bermakna. (*)

Penulis: Rukaiyah Rafiq, Kepala Sekretariat Yayasan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi)

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com