InfoSAWIT, NUSA DUA – Suasana hangat dan penuh semangat memenuhi ruangan ketika Ketua Panitia Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Outlook 2026 naik ke atas panggung. Dengan nada penuh rasa syukur dan bangga, ia membuka pertemuan bergengsi yang telah menjadi tradisi tahunan bagi komunitas sawit global selama dua dekade terakhir.
“Setiap tahun, saat saya berdiri di atas panggung ini dan melihat wajah-wajah para peserta, saya selalu diliputi rasa haru yang mendalam,” ujarnya saat memberikan pidato pad IPC 2025 dihadiri InfoSAWIT, Kamis (13/11/2025), di Nusa Dua, Bali. “Perasaan itu muncul bukan hanya karena acara ini, tetapi karena saya menyaksikan kekuatan luar biasa dari komunitas kita.”
Selama 20 tahun, IPOC telah menjadi semacam homecoming bagi para pelaku industri sawit dunia—sebuah forum yang mempertemukan produsen, pembeli, peneliti, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara. Dari awalnya sebagai pertemuan terbatas di dalam negeri, kini IPOC tumbuh menjadi poros utama bagi industri minyak nabati global.
BACA JUGA: Sintang Mantapkan Arah Pembangunan Sawit Berkelanjutan Lewat Rencana Aksi 2025–2029
Namun, menurut Mona, kekuatan sejati konferensi ini tidak semata terletak pada agenda atau deretan pembicara ternama, melainkan pada para peserta yang datang dari berbagai penjuru dunia.
“Salah satu kebahagiaan terbesar saya adalah berjalan di antara para peserta, melihat tawa sahabat lama yang kembali bertemu, dan semangat dari wajah-wajah baru yang membawa energi segar. Di situlah jiwa konferensi ini hidup,” tuturnya.
Tahun ini, IPOC mencatat 1.545 peserta dari 28 negara, menandai peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Lebih dari seratusan perusahaan turut memamerkan inovasi terbaru dalam pameran, sementara 38 sponsor utama berkontribusi aktif mendukung pelaksanaan acara.
BACA JUGA: Menjaga Akuntabilitas Sawit Global
Dalam sambutannya, Mona Surya juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy yang hadir membuka konferensi secara resmi. “Kehadiran beliau menunjukkan pentingnya industri sawit di mata pemerintah Indonesia dan dunia,” katanya.
Mengusung tema kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan keberlanjutan, IPOC 2025 menyoroti berbagai tantangan aktual industri, termasuk kebijakan Deforestation Regulation Uni Eropa (EUDR), dinamika kebijakan domestik, dan upaya memperkuat ketahanan pasar global.
“Regulasi global bukan sekadar latar belakang, tetapi faktor aktif yang membentuk arah operasi industri kita,” ujarnya menekankan. “Karena itu, konferensi ini dirancang untuk menggali wawasan, memperdalam pemahaman, dan menumbuhkan kolaborasi lintas sektor.”
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Rabu (12/11), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Selain sesi pleno dengan pembicara kelas dunia, IPOC 2025 juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif—mulai dari forum bisnis, kompetisi persahabatan, hingga malam jaringan (networking night) yang selalu dinanti para peserta.
“Konferensi ini bukan hanya tentang berdiskusi, tetapi tentang membangun hubungan yang memperkuat masa depan industri sawit dunia,” kata Mona Surya menutup sambutannya. (T2)
