InfoSAWIT, NUSA DUA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa sektor kelapa sawit tetap menjadi salah satu pilar terpenting perekonomian nasional di tengah perlambatan ekonomi global. Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan pidato kunci pada pembukaan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Outlook 2026, Kamis (13/11/2025), di Nusa Dua, Bali.
Airlangga menyampaikan, meskipun perekonomian dunia masih dibayangi ketidakpastian, Indonesia mampu menjadi titik terang (bright spot) di antara negara berkembang lainnya. “Pertumbuhan ekonomi nasional terus bertahan di atas 4%, dengan sektor manufaktur dan pertanian sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” ujarnya dalam acara yang dihadiri InfoSAWIT.
Menurut Airlangga, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, tumbuh 4,89% pada kuartal ketiga 2025, didorong oleh stimulus pemerintah dan meningkatnya mobilitas masyarakat. Sementara itu, investasi domestik tumbuh 13,7% secara tahunan, dengan realisasi mencapai Rp 1.434,3 triliun. Indeks Manufaktur (PMI) juga berada di level ekspansif 51,2, menandakan potensi percepatan pertumbuhan pada kuartal berikutnya.
BACA JUGA: Ketua Panitia IPOC 2025: Dua Dekade Menyatukan Komunitas Sawit Dunia
“Inflasi tetap terkendali di level 2,86% pada Oktober, dan pemerintah terus memperkuat daya beli masyarakat melalui percepatan belanja negara, program perlindungan sosial, serta insentif konsumsi dan transportasi menjelang akhir tahun,” kata Airlangga.
Sawit Jadi Penopang Neraca Dagang
Dalam kesempatan itu, Airlangga menegaskan kembali peran strategis sawit dalam memperkuat neraca perdagangan Indonesia. Hingga September 2025, surplus perdagangan tercatat mencapai US$ 4,34 miliar, dengan minyak sawit sebagai salah satu penyumbang utama.
Dari Januari hingga September 2025, ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 28,55 juta ton, meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. India dan Tiongkok tetap menjadi pasar utama, sementara Jepang dan Selandia Baru menunjukkan peningkatan permintaan produk nonmigas berbasis sawit.
BACA JUGA: Ketua Panitia IPOC 2025: Dua Dekade Menyatukan Komunitas Sawit Dunia
“Rata-rata harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit berada di kisaran Rp 3.000 per kilogram. Ini memberi dampak positif bagi kesejahteraan petani sekaligus menjaga daya saing industri,” jelas Airlangga.
Untuk memperkuat keberlanjutan, pemerintah terus memperkuat sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan menyiapkan sistem informasi terpadu yang menghubungkan kebijakan, data sertifikasi, dan rantai pasok. “Langkah ini akan meningkatkan transparansi dan memungkinkan pelacakan produk secara real-time,” katanya.
Airlangga juga menyinggung komitmen pemerintah dalam memperkuat transisi energi bersih berbasis sawit. Program biodiesel nasional kini telah mencapai mandat B40, dan pemerintah berencana menerapkan B50 pada semester kedua 2026.
“Program ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan telah berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 41,46 juta ton CO₂,” ungkapnya.
Selain biodiesel, pemerintah tengah mengembangkan bioavtur dan bioetanol berbasis sawit sebagai bahan bakar berkelanjutan untuk sektor transportasi udara dan darat. “Kami berharap dalam dua hingga tiga tahun ke depan, produk ini bisa mulai dipasarkan secara komersial,” ujar Airlangga optimistis.
