IPOC 2025: Perbaiki Persepsi, Bangun Kepercayaan—Palm Oil Harus Menang dalam “Lomba Global” Reputasi

oleh -1.937 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Adjunct Professor Business Administration dari John Cabot University Rome, Pietro Paganini.

InfoSAWIT, NUSA DUA — Industri sawit dunia tengah berada pada titik balik penting. Bukan hanya terkait regulasi atau isu deforestasi, tetapi soal satu hal yang dianggap paling mendesak: persepsi. Hal itu ditegaskan Adjunct Professor Business Administration dari John Cabot University Rome, Pietro Pagagini, saat berbicara dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Outlook 2026, dihadiri InfoSAWIT, di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025).

Paganini mengawali paparannya dengan sebuah ironi. Di satu sisi, minyak sawit adalah komoditas paling produktif, paling inklusif, dan menyerap jutaan tenaga kerja, termasuk petani kecil. Namun di sisi lain, minyak sawit tetap memikul reputasi yang buruk di pasar global.

“Mengapa komoditas yang sangat produktif dan esensial justru diperlakukan sebagai penjahat?” ujarnya. “Jawabannya ada pada persepsi—bukan orang lain, tetapi persepsi yang kita sebagai komunitas praktik ikut ciptakan. Dan hari ini, persepsi lebih kuat daripada realitas.”

BACA JUGA: IPOC 2025: Kementan Gaspol Hilirisasi Sawit, Target Produksi 100 Juta Ton di 2045

Menurutnya, persepsi inilah yang membentuk regulasi, mulai dari kebijakan deforestasi Eropa hingga berbagai standar keberlanjutan lain yang saat ini dianggap menyulitkan negara produsen. Dalam dunia modern, kata Paganini, kepercayaan telah menjadi mata uang paling berharga.

Untuk menjelaskan kekuatan persepsi, Paganini mencontohkan dua produk yang ia kenal sebagai orang Italia: extra virgin olive oil dan keju parmesan. Meski produksi olive oil jauh lebih kecil dan melibatkan sedikit tenaga kerja, reputasinya di pasar dunia begitu kuat—dikaitkan dengan kesehatan, kualitas, dan umur panjang.

“Parmesan cheese bahkan bisa menjual produknya dengan harga anelastis. Konsumen membayar karena mereka percaya,” katanya. “Pertanyaannya, mengapa sawit tidak mendapatkan perlakuan yang sama?”

BACA JUGA: IPOC 2025: EBTKE Pastikan Pengujian B50 Berjalan Transparan

Ia menekankan bahwa reputasi positif dibangun melalui inovasi, edukasi, dan konsistensi narasi, bukan hanya data teknis.

 

UDR: Ancaman atau Peluang?

Menurut Pagagini, industri sawit perlu berhenti melihat Regulasi Deforestasi Uni Eropa (UDR/EUDR) sebagai musuh utama. Tren global menunjukkan bahwa bukan hanya Eropa, tetapi konsumen di seluruh dunia—termasuk Asia—semakin menuntut nol deforestasi, uji tuntas, dan keterlacakan.

“Regulasi itu datang karena konsumen menginginkannya. Dan konsumen tidak pernah salah. Jadi jika mereka meminta traceability dan due diligence, kita harus memberikan itu,” ujarnya.

BACA JUGA: KPK Perkuat Pengawasan Tata Kelola Sawit di Gorontalo, Dorong Transparansi dan Kepastian Usaha

Ia memaparkan bahwa perubahan persepsi di Eropa sendiri mulai bergerak positif. UDR membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi rantai pasok, termasuk penggunaan satelit, drone, blockchain, dan kecerdasan buatan.

“UDR bukan tentang apa, tetapi tentang bagaimana dan kapan kita meresponsnya. Ini adalah perlombaan global untuk membangun kepercayaan,” jelasnya.

 


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com