InfoSAWIT, NUSA DUA — Industri sawit dunia tengah berada pada titik balik penting. Bukan hanya terkait regulasi atau isu deforestasi, tetapi soal satu hal yang dianggap paling mendesak: persepsi. Hal itu ditegaskan Adjunct Professor Business Administration dari John Cabot University Rome, Pietro Pagagini, saat berbicara dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Outlook 2026, dihadiri InfoSAWIT, di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025).
Paganini mengawali paparannya dengan sebuah ironi. Di satu sisi, minyak sawit adalah komoditas paling produktif, paling inklusif, dan menyerap jutaan tenaga kerja, termasuk petani kecil. Namun di sisi lain, minyak sawit tetap memikul reputasi yang buruk di pasar global.
“Mengapa komoditas yang sangat produktif dan esensial justru diperlakukan sebagai penjahat?” ujarnya. “Jawabannya ada pada persepsi—bukan orang lain, tetapi persepsi yang kita sebagai komunitas praktik ikut ciptakan. Dan hari ini, persepsi lebih kuat daripada realitas.”
BACA JUGA: IPOC 2025: Kementan Gaspol Hilirisasi Sawit, Target Produksi 100 Juta Ton di 2045
Menurutnya, persepsi inilah yang membentuk regulasi, mulai dari kebijakan deforestasi Eropa hingga berbagai standar keberlanjutan lain yang saat ini dianggap menyulitkan negara produsen. Dalam dunia modern, kata Paganini, kepercayaan telah menjadi mata uang paling berharga.
Untuk menjelaskan kekuatan persepsi, Paganini mencontohkan dua produk yang ia kenal sebagai orang Italia: extra virgin olive oil dan keju parmesan. Meski produksi olive oil jauh lebih kecil dan melibatkan sedikit tenaga kerja, reputasinya di pasar dunia begitu kuat—dikaitkan dengan kesehatan, kualitas, dan umur panjang.
“Parmesan cheese bahkan bisa menjual produknya dengan harga anelastis. Konsumen membayar karena mereka percaya,” katanya. “Pertanyaannya, mengapa sawit tidak mendapatkan perlakuan yang sama?”
BACA JUGA: IPOC 2025: EBTKE Pastikan Pengujian B50 Berjalan Transparan
Ia menekankan bahwa reputasi positif dibangun melalui inovasi, edukasi, dan konsistensi narasi, bukan hanya data teknis.
UDR: Ancaman atau Peluang?
Menurut Pagagini, industri sawit perlu berhenti melihat Regulasi Deforestasi Uni Eropa (UDR/EUDR) sebagai musuh utama. Tren global menunjukkan bahwa bukan hanya Eropa, tetapi konsumen di seluruh dunia—termasuk Asia—semakin menuntut nol deforestasi, uji tuntas, dan keterlacakan.
“Regulasi itu datang karena konsumen menginginkannya. Dan konsumen tidak pernah salah. Jadi jika mereka meminta traceability dan due diligence, kita harus memberikan itu,” ujarnya.
BACA JUGA: KPK Perkuat Pengawasan Tata Kelola Sawit di Gorontalo, Dorong Transparansi dan Kepastian Usaha
Ia memaparkan bahwa perubahan persepsi di Eropa sendiri mulai bergerak positif. UDR membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi rantai pasok, termasuk penggunaan satelit, drone, blockchain, dan kecerdasan buatan.
“UDR bukan tentang apa, tetapi tentang bagaimana dan kapan kita meresponsnya. Ini adalah perlombaan global untuk membangun kepercayaan,” jelasnya.
