InfoSAWIT, NUSA DUA – Pemerintah terus memperkuat langkah dalam pengembangan energi bersih berbasis sawit. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa pengujian dan penerapan bahan bakar nabati (biofuel) menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga stabilitas harga sawit sekaligus menurunkan emisi nasional.
Dalam sesi konferensi pers di ajang Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and Price Outlook 2026, Kamis (13/11/2025), di Nusa Dua, Bali, Eniya menjelaskan bahwa Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan biofuel, termasuk melalui kolaborasi dengan industri otomotif dan produsen suku cadang.
“Indonesia sudah cukup berpengalaman. Beberapa produsen dan industri otomotif bahkan sudah melakukan uji coba mandiri, termasuk Toyota. Ini menunjukkan kesiapan kita untuk melangkah ke tahap selanjutnya,” ujar Eniya di hadapan peserta konferensi yang dihadiri InfoSAWIT.
BACA JUGA: Wamenlu: Standar Keberlanjutan Harus Bersifat Universal, Bukan Hanya Nilai Barat
Eniya mencontohkan pengalaman Brasil dan India yang lebih dulu berhasil menerapkan program bioetanol secara nasional. Menurutnya, pembelajaran dari kedua negara tersebut penting bagi Indonesia dalam menjaga kualitas dan stabilitas pasokan biofuel di pasar domestik.
“Brasil dulu juga memulai dari campuran rendah, 5% hingga 30%, dan menghadapi tantangan serupa seperti kadar air serta penyesuaian pada komponen kendaraan. Namun mereka bisa mengatasinya dengan standarisasi yang ketat. Kita juga akan lakukan hal yang sama,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, sejumlah pengujian bahan bakar campuran sawit (seperti B50) tengah dilakukan untuk melihat daya tahan mesin, efisiensi pembakaran, serta pengaruh terhadap komponen kendaraan. Hasil uji coba awal menunjukkan bahwa beberapa kendaraan dapat beradaptasi dengan baik setelah dilakukan penyesuaian pada sistem bahan bakar.
BACA JUGA: Menko Airlangga Hartarto: Industri Sawit Jadi Pilar Ekonomi Nasional di Tengah Ketidakpastian Global
“Kami akan transparan dengan hasil pengujian. Kalau memang ada kendala, akan kami sampaikan secara terbuka. Semua data akan dilaporkan agar industri bisa bersiap,” tegas Eniya.
Lebih lanjut, Eniya menekankan bahwa kebijakan pengembangan biodiesel bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagian dari strategi ekonomi untuk mendukung petani sawit.
“Tujuannya ada tiga: menjaga harga sawit agar tetap menguntungkan bagi petani, menekan emisi karbon, dan memperkuat ketahanan energi nasional,” katanya.
Menurutnya, peningkatan bauran energi baru seperti B50 akan berdampak pada kebutuhan bahan baku sawit nasional. Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis untuk memastikan pasokan minyak sawit mentah (CPO) tetap mencukupi tanpa membuka lahan baru secara masif.
“Jika nanti B50 diberlakukan penuh, kebutuhan bahan baku tentu meningkat. Maka, produktivitas perkebunan harus ditingkatkan agar tidak perlu membuka lahan baru,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Eniya menyebutkan bahwa Kementerian ESDM bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) dan berbagai pemangku kepentingan tengah merumuskan langkah lanjutan dalam pengembangan biofuel nasional yang efisien, ramah lingkungan, dan berkeadilan bagi seluruh pelaku industri. (T2)
