Paganini mengapresiasi langkah Indonesia dan Malaysia yang sudah mulai mematuhi UDR. Ia menyebut negara produsen justru terlihat lebih siap dibanding beberapa negara konsumen.
“Produsen mematuhi, sementara sebagian konsumen justru mengeluh. Kita harus bangga akan hal ini,” katanya.
Untuk memastikan implementasi yang adil, Paganini mengusulkan fase uji coba (testing phase) selama 24 bulan bagi perusahaan, serta penundaan satu tahun bagi petani kecil yang masih perlu merapikan data dan kesiapan lapangan.
Ia juga menekankan perlunya steering committee per komoditas untuk mengidentifikasi masalah teknis selama masa uji coba tersebut. Fase ini akan berakhir tepat pada jadwal revisi UDR pada 2028, sehingga masukan dari negara produsen dapat dimasukkan secara resmi.
Paganini mengajak Uni Eropa dan investor swasta untuk mengalihkan investasi digital mereka ke transformasi rantai pasok sawit. “Ada banyak uang di luar sana untuk digitalisasi. Ini tentang kolaborasi, bukan konfrontasi.”
Produktivitas, Replanting, dan Tekanan Lingkungan
Ia tak menutup mata terhadap tantangan internal industri sawit, mulai dari produktivitas yang stagnan, kebutuhan replanting, hingga tekanan ekologis. Namun semuanya, menurutnya, dapat diperbaiki melalui inovasi dan teknologi.
BACA JUGA: Menteri PPN: Sawit Bukan Sekadar Komoditas, tapi Jembatan Persahabatan dan Kemanusiaan
“Kita harus menggandakan produktivitas karena kebutuhan minyak nabati global terus meningkat. Sawit adalah yang paling efisien, dan dengan teknologi, kita bisa menurunkan tekanan terhadap lingkungan,” ujarnya.
Pada bagian akhir, Paganini menyampaikan bahwa industri sawit—dengan skala dan dampaknya yang besar—harus menjadi pemimpin dalam transformasi digital rantai pasok global.
“Dunia bergerak ke arah itu. Semua sektor melakukannya. Industri sawit harus memimpin, bukan mengikuti, mulai dari petani kecil hingga perusahaan besar,” tegasnya.
IPOC 2025, menurut Pagagini, menjadi momentum penting untuk menata ulang narasi, memperbaiki persepsi, dan membangun kepercayaan global.
“Persepsi bisa berubah. Tetapi kita harus memulainya dari sekarang. Ini bukan perang—ini kesempatan untuk berkolaborasi dan memimpin masa depan industri minyak nabati dunia.” (T2)
