InfoSAWIT, MUMBAI — India diperkirakan akan meningkatkan impor minyak sawit hampir 20% pada tahun pemasaran baru 2025/2026, seiring harga yang semakin kompetitif dan membuat minyak nabati tropis ini kembali merebut pangsa pasar. Proyeksi tersebut disampaikan Presiden Solvent Extractors’ Association of India (SEA), Sanjeev Asthana, Kamis (21/11).
Kenaikan pembelian dari negara konsumen terbesar dunia ini berpotensi menurunkan stok minyak sawit di negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia, sekaligus memberikan dorongan bagi harga berjangka CPO di Bursa Malaysia.
“Setelah harga sawit terkoreksi, posisinya menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain. Ini yang akan mendorong kenaikan permintaan impor,” ujar Asthana dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Senin (24/11/2025).
BACA JUGA: Eks Lahan Sawit Bakal di Konversi ke Kedelai, Dorong Pemerintah Genjot Produksi Kedelai
Impor Berbalik Naik Setelah Terendah Lima Tahun
Asthana memperkirakan impor minyak sawit India sepanjang tahun pemasaran 2025/2026, yang dimulai pada 1 November, dapat mencapai 9,3 juta ton. Angka itu jauh lebih tinggi dari 7,58 juta ton pada tahun sebelumnya, yang merupakan level terendah dalam lima tahun.
Pada periode 2024/2025, impor sawit India merosot 15,9% karena harga sawit sempat berada pada posisi premium dibandingkan soyoil.
Namun situasi kini berbalik: harga sawit diperdagangkan dengan diskon sekitar US$100 per ton dibandingkan minyak kedelai, dan lebih dari US$200 lebih murah dari minyak bunga matahari. Kondisi ini mendorong para pelaku penyulingan di India untuk mengamankan pengiriman beberapa bulan ke depan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode III-November 2025 Turun Rp 35,91 Per Kg
Sementara itu, impor soyoil diperkirakan sedikit melampaui rekor tahun lalu yang mencapai 5,47 juta ton. Untuk minyak bunga matahari, pembelian diproyeksi turun ke kisaran 2 juta–2,5 juta ton dari 2,9 juta ton tahun sebelumnya, menyusul kenaikan harga akibat kerusakan panen di kawasan Laut Hitam.
Secara keseluruhan, total impor minyak nabati India diprediksi mencapai rekor 16,5 juta–17 juta ton pada musim baru, sejalan dengan meningkatnya konsumsi domestik. Tahun lalu, total impor mencapai 16 juta ton.
SEA juga menandatangani nota kesepahaman dengan Federation of Oils, Seeds and Fats Associations pada Rabu lalu. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat pertukaran pengetahuan antarindustri dan meminimalkan risiko perselisihan dagang dalam proses impor. (T2)
