InfoSAWIT, JAKARTA — Di tengah isu lingkungan yang kian kompleks, tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari persoalan paling mendasar: limbah. Tim Althara, beranggotakan Agnes Ruth Savira, Maritza Kayla Zasky Malikha, dan Naveed Muhammad Falah Brahmantika, sukses mengubah limbah cair kelapa sawit menjadi pupuk organik cair yang ramah lingkungan dan aplikatif. Karya ilmiah itu membawa mereka melaju di Festival Engineering Api Biru (FEAB) 2025 di Jakarta.
Mengangkat tema “Akselerasi Indonesia Impact”, Tim Althara menyoroti persoalan limbah cair pabrik kelapa sawit atau POME—salah satu tantangan terbesar industri sawit. Melalui pendekatan fermentasi mikrobiologis, mereka mengolah POME menjadi biofertilizer yang tidak hanya meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga memberikan perlindungan alami terhadap hama.
Salah satu hasil uji aplikasi yang mereka tonjolkan adalah pada Tomat Momotaro, varietas premium yang membutuhkan nutrisi tinggi. “Kami ingin membuktikan bahwa limbah bukan akhir dari rantai produksi. Dengan teknologi yang tepat, limbah bisa menjadi harapan—baik untuk petani sawit maupun petani hortikultura,” ujar Agnes, yang menggagas ide ini setelah kunjungan lapangan ke Mujagi Farm, Cianjur, dikutip InfoSAWIT dari ITB, Rabu (26/11/2025).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 26 November – 2 Desember 2025 Naik Rp 15,97 per Kg
Lebih jauh, pupuk fermentasi ini dinilai mampu menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida, memberikan alternatif yang lebih ramah lingkungan bagi petani. Secara ekonomi, inovasi ini membuka peluang efisiensi biaya dan meningkatkan daya saing hortikultura Indonesia—bahkan berpotensi memperluas akses ekspor produk premium.
Namun jalan menuju pencapaian itu bukan tanpa hambatan. Penyusunan karya bertepatan dengan pekan ujian akhir semester, memaksa mereka membagi waktu secara ketat. Dengan komunikasi intensif, pembagian tugas yang matang, dan dukungan internal tim, naskah ilmiah tersebut rampung tepat waktu. “Kekuatan terbesar kami adalah kerja sama. Dari situlah ide bisa diwujudkan,” kata mereka.
Pendekatan multidisiplin—bioteknologi, mikrobiologi, kimia, pertanian, hingga lingkungan—menjadi fondasi inovasi ini. Hasilnya adalah solusi aplikatif yang sejalan dengan prinsip circular economy: menyinergikan rantai perkebunan sawit dengan sektor hortikultura.
BACA JUGA: Luka yang Menganga di Pino Raya, Ketika Konflik Agraria Berujung Peluru
Keikutsertaan mereka di FEAB 2025 bukan titik akhir, melainkan langkah awal untuk mengembangkan inovasi ini hingga tingkat implementasi di lapangan. Mereka berharap, teknologi pengolahan limbah sawit menjadi pupuk organik cair dapat dikomersialisasikan dan menjadi alternatif bagi banyak petani di Indonesia.
“Pelajaran terpenting adalah jangan berhenti ketika menghadapi tantangan. Justru dari tantangan itulah peluang muncul. Kami berharap pengalaman ini bisa menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk berkolaborasi dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat,” tutur Agnes.
Sekadar informasi, Final FEAB 2025 berlangsung pada 7 Juli 2025 lalu di Jakarta, dan malam penganugerahan digelar pada 17 Juli 2025. Lewat inovasi ini, Tim Althara tidak hanya menorehkan prestasi, tetapi juga membuktikan bahwa masa depan pertanian Indonesia dapat dibangun melalui keberanian mengubah limbah menjadi nilai. (T2)
