InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan mengalami pelemahan pada 2026 seiring membaiknya kondisi cuaca, meningkatnya hasil panen, serta normalisasi produksi global. Proyeksi tersebut disampaikan oleh MARC Ratings dalam laporannya pada Kamis (4/12).
Lembaga pemeringkat itu menilai bahwa harga CPO tidak akan kembali menyentuh level tinggi seperti pada akhir 2024 hingga awal 2025. MARC memprediksi harga CPO tahun depan bergerak di kisaran RM 3.850 – RM 4.250 per ton, lebih rendah dari perkiraan rata-rata tahun 2025 sebesar RM 4.300 per ton.
MARC menambahkan, potensi kenaikan harga hanya dapat terjadi jika ada intervensi kebijakan, khususnya dari pemerintah Indonesia, yang mampu mendorong permintaan biodiesel.
BACA JUGA: Kajian Baru Tegaskan SISKA dan ISPO Berjalan Seiring, Bukan Saling Bertentangan
Saat ini, harga CPO telah turun lebih dari 10% dari puncak tahun 2025 yang berada di level RM 4.603 per ton. Kontrak berjangka CPO tiga bulan terakhir diperdagangkan pada kisaran RM 4.120 di Bursa Malaysia Derivatives.
MARC Ratings mengutip proyeksi Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menunjukkan konsumsi global minyak sawit tetap meningkat, meski permintaan diperkirakan masih sedikit di bawah total produksi.
India, sebagai importir terbesar dunia, diperkirakan akan mempertahankan minat beli yang kuat berkat harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari.
BACA JUGA: Mentan Amran Beri Apresiasi, GAPKI Gerak Cepat Salurkan Donasi untuk Korban Bencana Sumatera
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga memproyeksikan peningkatan 2,1% dalam pemanfaatan minyak nabati global pada 2026, terutama dari sektor biofuel.
Untuk minyak nabati pesaing, produksi diperkirakan menunjukkan hasil yang beragam pada 2026. Produksi kedelai global diperkirakan meningkat, terutama dari Brasil, produsen terbesar dunia. Namun hasil panen Amerika Serikat dan Argentina diproyeksikan sedikit menurun.
Sementara itu, prospek produksi rapeseed di Kanada dan Eropa diperkirakan terhambat akibat curah hujan yang masih berada di bawah rata-rata historis, sehingga pemulihan hasil panen berpotensi tertahan.
BACA JUGA: Pemberdayaan Perempuan Dianggap Penentu Arah Baru Industri Sawit Berkelanjutan
“Dengan kondisi pasokan minyak substitusi yang campuran, harga CPO kemungkinan masih menghadapi tekanan dan kesulitan untuk kembali ke level puncak seperti pada akhir 2024 hingga awal 2025,” tulis MARC Ratings. (T2)




















