Tripatra Dorong Pengakuan Global POME sebagai Bahan Baku SAF Rendah Emisi

oleh -3.353 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Tripatra untuk InfoSAWIT/Head of Business Development, Green Energy & Chemicals Tripatra, Farras Wibisono.

InfoSAWIT, JAKARTA – PT Tripatra Engineering (Tripatra) menegaskan perannya dalam transisi energi berkelanjutan dengan memperluas fokus pada proyek energi baru terbarukan, khususnya pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Upaya tersebut membuahkan hasil setelah Palm Oil Mill Effluent (POME) resmi diakui sebagai bahan baku SAF oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).

Pengakuan itu tertuang dalam dokumen resmi “CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels”, menyusul rampungnya Studi Global CAEP/14 ICAO terkait Life Cycle Assessment (LCA) jalur POME–HEFA (Hydroprocessed Esters and Fatty Acids) yang berbasis di Indonesia. Studi ini menjadi bagian dari dukungan terhadap komitmen nasional Indonesia dalam menurunkan emisi sektor transportasi, khususnya penerbangan.

Studi global tersebut diajukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, dengan dukungan Kementerian Luar Negeri. Tim ahli terdiri atas Tripatra bersama Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS). Proses pengajuan dimulai sejak November 2024, meliputi pengumpulan data lapangan di pabrik kelapa sawit, penyusunan working paper untuk ICAO Working Group 5, hingga rangkaian diskusi teknis dengan negara-negara anggota ICAO.

BACA JUGA: Pemprov Kalteng Komit Adopsi Integrasi Sapi Sawit, Genjot Produktivitas dan Kesejahteraan Peternak

Dalam kajian tersebut, POME diajukan sebagai residu dari proses pengolahan kelapa sawit yang tidak memiliki beban Indirect Land Use Change (ILUC), sehingga memenuhi kriteria keberlanjutan ICAO untuk jalur HEFA. Setelah melalui evaluasi teknis selama sekitar satu tahun, termasuk pembandingan dengan studi akademik dari Hasselt University serta verifikasi oleh Joint Research Centre (JRC), POME memperoleh nilai LCA sebesar 18,1 gCO₂e/MJ. Angka ini menunjukkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar avtur konvensional dan dapat digunakan sebagai default value dalam skema CORSIA oleh produsen SAF di seluruh dunia.

President Director & CEO Tripatra, Raymond Rasfuldi, menyatakan bahwa pengakuan ICAO tersebut membuka peluang besar bagi pengelolaan limbah sawit secara berkelanjutan. “Limbah cair industri kelapa sawit yang selama ini berpotensi menghasilkan emisi metana dapat dikonversi menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan dengan emisi yang lebih rendah, sebagaimana telah diakui ICAO,” ujarnya, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (18/12/2025).

Menurut Raymond, pendekatan ini mencerminkan penerapan ekonomi sirkular, di mana limbah industri diolah menjadi produk energi bernilai tinggi yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan. “Melalui keterlibatan dalam studi internasional ini, Tripatra menegaskan komitmennya sebagai katalis kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem SAF dan mendukung visi Indonesia menuju transisi energi yang berkelanjutan dan berdaya saing,” katanya.

BACA JUGA: ERP Plantation, Otak Digital Perkebunan

Tekanan untuk menurunkan emisi karbon di sektor penerbangan memang kian meningkat secara global. Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan industri penerbangan menyumbang sekitar 3 persen dari total emisi karbon dioksida (CO₂) dunia. Emisi tersebut terutama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca seperti CO₂ dan nitrogen oksida (NOx).

Sebagai respons, ICAO melalui skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) mendorong penggunaan SAF sebagai salah satu langkah konkret menuju target net-zero carbon emissions pada 2050. SAF dinilai sebagai solusi utama karena dapat digunakan langsung (drop-in fuel) tanpa modifikasi mesin pesawat maupun infrastruktur bandara, serta dapat diproduksi dari beragam bahan baku terbarukan.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif melalui ketersediaan kelapa sawit yang melimpah, sehingga POME berpotensi menjadi bahan baku strategis SAF untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun pasar global. Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa.

BACA JUGA: Prabowo Dorong Pengembangan Energi Terbarukan Berbasis Sawit untuk Kemandirian Papua

“Persetujuan ICAO ini menegaskan bahwa POME secara resmi diakui sebagai bahan baku SAF dengan nilai emisi yang sangat kompetitif, mampu memberikan penghematan emisi hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil. Ini momentum besar bagi Indonesia untuk memasuki pasar SAF global,” kata Lukman.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif lintas institusi. “Kami mengapresiasi dukungan Kementerian Luar Negeri serta kontribusi teknis Tripatra dan IPOSS. Ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan nasional di forum internasional,” ujarnya.

Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun di sektor energi, Tripatra terus menginvestasikan sumber daya untuk mengembangkan teknologi dan infrastruktur biofuel nasional, termasuk SAF. “Penguatan industri biofuel adalah kunci ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan jangka panjang. Dengan sinergi yang kuat, kami optimistis Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya ekosistem industri SAF,” tutup Raymond. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com