InfoSAWIT, JAKARTA — Pasar minyak sawit global memasuki fase krusial menjelang 2026. Di tengah permintaan pangan, energi, dan produk turunan yang terus tumbuh, kemampuan pasokan untuk mengimbangi kebutuhan tersebut justru menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari kebijakan pemerintah hingga keterbatasan lahan dan isu keberlanjutan.
Merujuk tulisan analis Sathia Varqa di Fastmarkets, sebagaimana dikutip InfoSAWIT, Rabu (31/12/2025), pasar sawit global kini berada di “persimpangan jalan”. Selama bertahun-tahun, Indonesia menjadi motor utama ekspansi pasokan minyak sawit dunia. Namun, momentum pemulihan produksi tersebut kini dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan lahan, sementara Malaysia—sebagai pesaing terdekat—menghadapi stagnasi luas tanam dan tren penurunan hasil.
Dari sisi produksi, Indonesia diproyeksikan mencatat pemulihan pada 2026, dengan kenaikan produksi minyak sawit mentah (CPO) sekitar 1,5–2,0 juta ton dibandingkan level 2024. Data GAPKI menunjukkan produksi Indonesia pada sembilan bulan pertama 2025 melonjak 11 persen menjadi 39,60 juta ton, membuka peluang tahun panen yang kuat.
BACA JUGA: POPSI Ingatkan Risiko B50 dan Kenaikan Pungutan Ekspor: Petani Sawit Terancam Jadi Korban
Namun, prospek tersebut dibayangi risiko serius. Pemerintah Indonesia tengah mengintensifkan program penertiban lahan sawit ilegal di kawasan hutan. Hingga kini, sekitar 3,3 juta hektare lahan telah disita, dengan 1,5 juta hektare di antaranya dialihkan ke BUMN PT Agrinas, sementara 1,8 juta hektare lainnya masih dalam proses verifikasi. Kondisi ini berpotensi menempatkan 2–5 juta ton produksi CPO dalam risiko pada 2026, menciptakan ketidakpastian pasokan yang signifikan.
Sementara itu, Malaysia diperkirakan menutup 2025 dengan kinerja produksi yang kuat, mendekati rekor 20 juta ton. Cuaca yang mendukung, ketersediaan tenaga kerja, serta perbaikan aplikasi pupuk mendorong hasil panen yang solid, termasuk rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan November.
Meski demikian, kinerja Malaysia pada 2026 diproyeksikan sedikit melemah. Produksi CPO diperkirakan turun sekitar 400 ribu ton menjadi 19,60 juta ton, terutama akibat fase istirahat tanaman setelah panen tinggi di akhir 2025. Stagnasi luas tanam di kisaran 5,60 juta hektare, ketergantungan pada tenaga kerja asing, serta lambatnya peremajaan dan mekanisasi dinilai membatasi potensi pertumbuhan jangka menengah.
BACA JUGA: Menakar Larangan Sawit di Jawa Barat dalam Bingkai Hierarki Hukum
Dengan kondisi tersebut, pasar sawit global pada 2026 akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan pemerintah, pengelolaan lahan, dan kemampuan industri menyeimbangkan tuntutan keberlanjutan dengan kebutuhan pasokan dunia. (T2)




















