InfoSAWIT, JAKARTA — Arus perdagangan minyak sawit global pada 2026 diperkirakan semakin terpolarisasi. Di tengah perubahan kebijakan dan dinamika pasokan minyak nabati dunia, India diproyeksikan tampil sebagai penopang utama permintaan, sementara China dan Uni Eropa bergerak dengan irama yang lebih hati-hati.
Merujuk tulisan analis pasar Sathia Varqa di Fastmarkets, sebagaimana dikutip InfoSAWIT, Rabu (31/12/2025), pola perdagangan global masih akan sangat ditentukan oleh negara-negara pengimpor utama. India dan China tetap menjadi pemain kunci, meskipun kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan permintaan diperkirakan berbeda.
China diproyeksikan membatasi impor minyak sawit sepanjang 2026. Stok minyak kedelai yang melimpah akibat peningkatan aktivitas crushing, ditambah harga palm olein yang relatif lebih tinggi dibanding minyak kedelai, membuat permintaan sawit Negeri Tirai Bambu cenderung tertahan. Kondisi ini membuat ruang pertumbuhan impor sawit China menjadi terbatas.
BACA JUGA: Menakar Larangan Sawit di Jawa Barat dalam Bingkai Hierarki Hukum
Sebaliknya, India—sebagai pembeli minyak sawit terbesar dunia—diperkirakan menjadi “penyerap” utama pasokan global. Upaya pengisian ulang stok oleh importir besar serta kebutuhan stabil dari sektor pangan menjadikan India penopang krusial untuk menjaga keseimbangan pasar dan menopang harga sawit global pada 2026.
Di Eropa, Rotterdam masih berperan sebagai salah satu pusat perdagangan utama dan indikator harga kawasan. Namun, likuiditas dan volume perdagangan dilaporkan terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan Uni Eropa, khususnya European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang kembali ditunda dan dijadwalkan berlaku pada Desember 2026, menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar.
Aturan tersebut mulai tercermin pada harga produk laurik sawit, terutama crude palm kernel oil (CPKO), yang diperdagangkan dengan premi US$350–400 per ton untuk pasokan yang memenuhi standar EUDR. Meski bertujuan mendorong keberlanjutan, regulasi ini berpotensi menambah biaya kepatuhan dan mengalihkan arus perdagangan antara produk yang patuh dan non-patuh EUDR.
BACA JUGA: POPSI Ingatkan Risiko B50 dan Kenaikan Pungutan Ekspor: Petani Sawit Terancam Jadi Korban
Dari sisi harga, pasar fisik minyak sawit masih sangat terkait dengan kontrak berjangka di Bursa Malaysia Derivatives. Untuk 2026, harga diperkirakan kuat pada paruh pertama tahun, didukung permintaan pangan dan bahan bakar. Memasuki paruh kedua, harga cenderung mendatar seiring pemulihan pasokan Indonesia, meski risiko volatilitas tetap terbuka akibat gangguan produksi atau perubahan kebijakan.
Secara regional, Indonesia akan ditentukan oleh pemulihan produksi, implementasi mandatori biodiesel B45, serta dampak operasional penertiban lahan oleh pemerintah. Sementara Malaysia menghadapi tantangan struktural, mulai dari ketergantungan pada tenaga kerja asing hingga lambatnya peremajaan kebun. Pelaku pasar pun disarankan mencermati laporan awal panen kuartal I 2026 dari Malaysian Palm Oil Board sebagai indikator arah produksi ke depan. (T2)




















