InfoSAWIT, JAKARTA – Forum Batik Laweyan, Spa Factory, hingga BOEMI Botanicals membuktikan bahwa sertifikasi dan keberlanjutan dapat membuka pasar global.
Di jantung Kampoeng Batik Laweyan, Solo, geliat tradisi membatik terus hidup, berdampingan dengan tantangan zaman. Sejak 2009, kawasan ini memiliki Ipal komunal—sebuah wujud nyata komitmen masyarakat untuk menjaga lingkungan dari limbah batik yang kerap dituding mencemari air.
“Batik itu warisan ratusan tahun. Kami ingin ia tetap lestari, bukan justru merusak bumi,” ujar Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), Alpha Febela Priyatmono, saat berbicara pada acara Craft Talks, yang dihadiri InfoSAWIT, awal Oktober 2025.
BACA JUGA: Dua Panggung, Satu Pertaruhan Sawit
Baginya, keberhasilan Laweyan menjaga lingkungan adalah cita-cita kolektif, dan kini semakin kuat dengan adanya sertifikasi keberlanjutan seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
“Dengan standar-standar itu, kami berharap batik Laweyan bisa dikenal bukan hanya karena motifnya, tapi juga karena ramah lingkungan,” tambahnya.
Perjalanan menuju keberlanjutan ternyata juga menghubungkan industri batik dengan sektor lain, salah satunya dunia kecantikan dan skincare. Spa Factory, produsen bahan baku untuk berbagai brand kosmetik, mulai serius menggarap konsep sustainability sejak 2019. Permintaan konsumen global yang makin kritis mendorong perubahan besar.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 4-10 Februari 2026 Naik Rp 131,95 per Kg
“Awalnya, klien kami bertanya sekadar klarifikasi bahan baku. Lama-lama, mereka menuntut kepastian. Dari situlah kami mulai masuk ke sertifikasi RSPO,” kata Product Development Coordinator Spa Factory, Vialita Rahmani. Menurutnya, keberlanjutan bukan lagi sekadar jargon, melainkan keharusan untuk menembus pasar premium dunia.
Sementara itu, di Bali, hadir kisah lain tentang keberlanjutan. BOEMI Botanicals, sebuah start-up skincare alami, membawa semangat serupa. Berbasis pada bahan-bahan alam Nusantara, BOEMI mengusung konsep “natural skin-food” yang diracik tangan perempuan-perempuan lokal. “Kami percaya, merawat kulit tidak boleh merusak bumi,” tutur General Manager BOEMI, Ribka Anastasia. (T2)
