InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) pada PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) ditetapkan Rp. 14.100/kg pada Jumat (13/2/2026), dengan demikian harga CPO tercatat turun Rp. 108/kg atau turun sekitar 0,76% dibandingkan harga CPO pada Kamis (12/2/2026) yang mencapai Rp. 14.208/Kg.
Dari informasi yang didapat InfoSAWIT dari KPBN, harga CPO Franco Belawan & Dumai ditetapkan Rp. 14.208/Kg. Harga CPO Loco Sei Tapung dibuka Rp. 13.969/Kg, namun terjadi withdraw dengan harga CPO penawaran tertinggi Rp. 13.761/kg.
Harga perdagangan minyak sawit mentah (CPO), di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Jumat (13/2/2026), melanjutkan tren penurunan untuk sesi keempat berturut-turut. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan kontrak minyak nabati di Bursa Dalian, Tiongkok, dan membuat CPO berada di jalur penurunan mingguan kedua secara beruntun.
BACa JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 13-19 Februari 2026 Turun Rp. 55,42 per Kg
Mengutip Reuters, kontrak CPO acuan untuk pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun RM29 per ton atau turun sekitar 0,72% menjadi RM4.008 per ton hingga jeda tengah hari. Secara mingguan, harga telah terkoreksi sekitar 3,51%.
Di pasar Tiongkok, harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat turun 0,86%, sementara harga kontrak minyak sawitnya melemah 1,54%. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga terkoreksi 0,33%.
Secara umum, pergerakan harga minyak sawit kerap mengikuti dinamika minyak nabati pesaingnya, mengingat komoditas ini bersaing dalam pangsa pasar minyak nabati global.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 11-17 Februari 2026 Turun Rp 21,22 per Kg
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh penutupan pasar Tiongkok dalam rangka libur Tahun Baru Imlek pada 16–23 Februari, yang berpotensi menekan aktivitas perdagangan dalam jangka pendek.
Di sisi kebijakan, Malaysia menaikkan harga referensi CPO untuk Maret. Meski demikian, perubahan tersebut tidak mengubah bea keluar yang tetap dipertahankan sebesar 9%, sebagaimana tercantum dalam surat edaran di situs Malaysian Palm Oil Board.
Dari Indonesia, keputusan pemerintah untuk menunda ekspansi program biodiesel turut menjadi faktor yang membayangi pasar. Analis menilai kebijakan tersebut, ditambah ekspektasi peningkatan produksi dalam beberapa bulan ke depan, berpotensi menekan harga sawit lebih lanjut. Namun demikian, permintaan yang masih relatif kuat serta perlambatan pertumbuhan produksi global diperkirakan dapat membatasi penurunan lebih dalam.
