Selain itu, proses pengolahan berlangsung relatif cepat dan fleksibel karena dapat dirancang secara modular serta dioperasikan secara kontinu maupun batch. “Endapan (sludge) yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah (soil improver),” tambahnya.
Lebih jauh, Prof Suprihatin menilai teknologi EC+ dapat berperan penting dalam mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular di industri kelapa sawit.
Air hasil pengolahan limbah dapat dimanfaatkan kembali untuk mencuci peralatan dan lantai pabrik maupun untuk penyiraman tanaman di area perkebunan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melesat Pada Senin (16/3), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Sementara itu, sludge hasil pengolahan dapat dikombinasikan dengan biochar yang dihasilkan dari pirolisis tandan kosong kelapa sawit untuk meningkatkan kandungan hara tanah. “Proses EC+ dapat menjadi komponen kunci dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan pupuk sintetis, serta mendukung terwujudnya konsep zero waste di industri kelapa sawit,” ujarnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi solusi teknologi yang tidak hanya mampu mengatasi persoalan limbah di industri kelapa sawit, tetapi juga menciptakan nilai tambah sekaligus mendorong praktik industri yang lebih berkelanjutan di masa depan. (T2)
