InfoSAWIT, BOGOR – IPB University kembali menghadirkan inovasi teknologi untuk mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. Kali ini inovasi datang dari Prof Suprihatin, dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB, yang mengembangkan teknologi pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (PKS) berbasis elektrokimia.
Inovasi tersebut lahir dari meningkatnya jumlah pabrik kelapa sawit di Indonesia yang memberikan kontribusi ekonomi besar, namun juga memunculkan tantangan lingkungan, terutama terkait pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS).
Prof Suprihatin menjelaskan bahwa setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diolah di pabrik kelapa sawit dapat menghasilkan limbah cair sekitar 0,75 hingga 0,90 meter kubik. Jika dihitung berdasarkan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), jumlah limbah cair tersebut setara sekitar 3,33 meter kubik per ton CPO.
Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti total padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
“Selama ini limbah cair PKS umumnya diolah dengan sistem kolam anaerobik–aerobik konvensional. Namun pendekatan tersebut masih memiliki keterbatasan dari sisi efektivitas dan efisiensi,” ujar Prof Suprihatin dalam keterangan tertulis, dikutip InfoSAWIT, Selasa (17/3/2026).
Sebagai solusi, ia mengembangkan teknologi pengolahan lanjutan yang disebut proses EC+, yakni teknologi berbasis elektrokimia melalui metode elektrokoagulasi.
BACA JUGA: Mekanisasi Perkebunan Sawit Buka Peluang Baru bagi Pekerja Perempuan
Teknologi ini bahkan telah terpilih sebagai salah satu dari 117 Inovasi Indonesia 2025 versi Business Innovation Center.
Secara sederhana, proses EC+ bekerja dengan menggunakan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif aluminium (Al³⁺) dari elektroda anoda. Ion tersebut kemudian mendestabilisasi partikel koloid dalam limbah cair dan membentuk flok aluminium hidroksida (Al(OH)₃) yang mampu mengikat berbagai kontaminan.
“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak dan lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak digunakan kembali,” jelasnya.
BACA JUGA: BPS Kaltim Catat 219 Perusahaan Perkebunan Sawit Beroperasi di Kalimantan Timur pada 2025
Selain memiliki kinerja teknis yang baik, teknologi ini juga dinilai lebih ramah lingkungan dan ekonomis dibandingkan metode konvensional.
Prof Suprihatin menjelaskan bahwa proses EC+ tidak memerlukan tambahan bahan kimia seperti tawas, sehingga dapat mengurangi potensi residu kimia dalam proses pengolahan limbah.
Dari sisi biaya operasional, metode ini juga dinilai lebih efisien karena biaya pengolahan limbah dapat ditekan hingga sekitar 50 persen dibandingkan metode koagulasi kimia. Sementara konsumsi energi listrik yang dibutuhkan sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.
