InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit global menghadapi tantangan baru yang kian mengemuka, yakni menurunnya daya tarik sektor perkebunan bagi tenaga kerja, khususnya generasi muda. Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.
Melansir tulisan Alain Rival, agronom dari Cirad yang dipublikasikan di The Conversation, dikutip InfoSAWIT, Rabu (25/3/2026), sektor perkebunan tropis seperti sawit, kakao, kopi, dan pisang masih bertumpu pada model lama yang diwarisi sejak era kolonial.
Model tersebut selama ini mengandalkan tenaga kerja yang melimpah, patuh, dan berbiaya rendah untuk menopang produksi komoditas ekspor.
Namun, menurut Rival, pendekatan ini kini mulai kehilangan relevansi.
“Isu utama saat ini bukan lagi semata lingkungan, tetapi daya tarik sosial dari sistem produksi pertanian tropis itu sendiri,” tulisnya.
Generasi Muda Mulai Menjauh dari Perkebunan
Di negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia, sektor perkebunan sawit mulai kesulitan menarik tenaga kerja lokal.
Penelitian menunjukkan bahwa generasi muda semakin enggan bekerja di perkebunan karena pekerjaan tersebut dinilai berat secara fisik, kurang dihargai secara sosial, dan tidak memberikan imbalan yang memadai.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya tingkat mekanisasi di sektor perkebunan tropis, sehingga banyak pekerjaan masih bergantung pada tenaga manual.
Selain itu, ketimpangan gender juga masih terjadi. Pekerjaan berat umumnya dilakukan laki-laki, sementara perempuan sering ditempatkan pada posisi yang kurang aman dan minim perlindungan sosial, sekaligus harus menanggung beban pekerjaan domestik.
Ketergantungan pada Tenaga Kerja Migran
Untuk menjaga produksi, banyak perkebunan—terutama di Malaysia—mengandalkan tenaga kerja migran yang mencapai 70% hingga 80% dari total pekerja sektor sawit.
Namun, ketergantungan ini terbukti rentan, seperti saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan kekurangan tenaga kerja dan penurunan produksi.
Di Indonesia, meski masih mengandalkan tenaga kerja domestik, mobilitas pekerja antar pulau menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan sektor ini.
