InfoSAWIT, JAKARTA – Limbah industri kelapa sawit kembali menunjukkan potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan produk microcrystalline cellulose (MCC) bernama Inacell yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Dilansir InfoSAWIT dari BRIN, Rabu (25/3/2025), inovasi ini tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri sawit nasional.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Holilah, menjelaskan bahwa MCC merupakan hasil hidrolisis selulosa terkontrol yang memiliki aplikasi luas di berbagai sektor industri.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode 15 – 21 Maret 2026 Naik Rp185,52 per Kg
“MCC banyak digunakan di industri farmasi, pangan, kosmetik, hingga material pelapis,” ujarnya dalam webinar bertajuk Product Knowledge.
Potensi Besar dari Limbah Sawit
Menurut Holilah, produksi crude palm oil (CPO) Indonesia diproyeksikan mencapai 48,5–51 juta ton pada 2026, yang secara langsung menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
“Limbah ini memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah seperti MCC,” jelasnya.
BACA JUGA: BPS Kaltim Catat 219 Perusahaan Perkebunan Sawit Beroperasi di Kalimantan Timur pada 2025
Pemilihan tandan kosong sawit sebagai bahan baku didasarkan pada ketersediaannya yang berkelanjutan serta kandungan lignoselulosa yang tinggi, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Dari hasil riset, pengolahan limbah tersebut mampu menghasilkan kandungan selulosa hingga 65,21%, dengan kadar lignin yang berhasil ditekan hingga sekitar 1%.
Substitusi Impor dan Keunggulan Produk
Permintaan MCC di Indonesia terus meningkat, dengan kebutuhan impor mencapai sekitar 4 juta kilogram per tahun.
Dalam pengujian, Inacell menunjukkan performa lebih baik dibandingkan produk MCC komersial, terutama dalam hal daya serap air (water holding capacity), daya serap minyak (oil holding capacity), serta indeks pengembangan (swelling index).
Hal ini membuka peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Holilah menjelaskan bahwa MCC memiliki berbagai fungsi strategis di berbagai sektor.
