InfoSAWIT, LEBAK – Musim kemarau membawa berkah bagi pelaku usaha mikro berbasis produk turunan kelapa sawit di Kabupaten Lebak, Banten. Permintaan krey atau tirai sawit meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, mendorong lonjakan omzet para perajin dan pengepul hingga mencapai 100 persen dibandingkan kondisi normal.
Dilansir InfoSAWIT dari Antara, Kamis (6/8/2026), peningkatan kebutuhan tirai sawit dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat yang memanfaatkan produk tersebut sebagai pelindung bangunan dari paparan sinar matahari langsung selama musim kemarau.
Salah seorang pengepul krey sawit di Kabupaten Lebak, Toto, mengungkapkan bahwa nilai penjualan usahanya kini mencapai sekitar Rp60 juta per pekan, meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar Rp30 juta.
Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahnya volume permintaan. Jika sebelumnya ia hanya memasok sekitar 1.000 unit krey setiap pekan, kini jumlahnya melonjak menjadi sekitar 2.000 unit. Produk tersebut dipasarkan melalui pedagang pengecer dengan harga sekitar Rp30 ribu per unit.
Menurut Toto, mayoritas pesanan berasal dari sejumlah kota di Banten hingga wilayah Jabodetabek, seperti Serang, Cilegon, dan Jakarta. Seluruh transaksi dilakukan dengan pelanggan tetap menggunakan sistem pembayaran tunai sehingga arus perputaran usaha tetap terjaga.
Lonjakan permintaan juga dirasakan pengepul lainnya, Timan, warga Desa Rangkasbitung Timur. Ia menyebut omzet usahanya kini mencapai sekitar Rp50 juta per pekan, naik dua kali lipat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp25 juta.
BACA JUGA: Biodiesel Menjadi Jangkar Harga Minyak Sawit Baru
Timan memasok tirai sawit ke sejumlah pelanggan tetap di Depok, Bogor, dan Jakarta. Menurutnya, peningkatan permintaan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan para pelaku usaha di daerah.
Di tingkat perajin, peningkatan pesanan turut mendorong bertambahnya aktivitas produksi. Rosad, perajin tirai sawit asal Desa Rangkasbitung Timur, kini mampu memproduksi sekitar enam unit krey setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Setiap unit krey dijual kepada pengepul dengan harga sekitar Rp25 ribu sehingga dirinya dapat memperoleh pendapatan harian sekitar Rp150 ribu. Ia menilai tingginya permintaan selama musim kemarau memberikan peluang bagi perajin untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesinambungan usaha.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit agar mengembangkan berbagai produk kerajinan berbahan baku pelepah dan lidi sawit, termasuk tirai serta sapu lidi.
Menurutnya, produk-produk tersebut memiliki pasar yang cukup luas dengan permintaan yang terus mengalir dari berbagai wilayah di Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Ia menambahkan, Kabupaten Lebak saat ini memiliki lebih dari 172 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk yang bergerak di sektor kerajinan berbasis kelapa sawit. Keberadaan UMKM tersebut dinilai berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Pemerintah daerah pun mengapresiasi berkembangnya industri kerajinan tirai sawit karena mampu memberikan nilai tambah terhadap komoditas sawit sekaligus menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di kawasan sekitar perkebunan. (T2)
