Di industri farmasi, MCC digunakan sebagai bahan pengisi tablet (excipient) yang mudah terurai di dalam tubuh dan aman karena berbasis nabati.
Sementara di sektor pangan, MCC berperan sebagai agen pembentuk tekstur, penstabil, dan pengental, serta membantu memperpanjang umur simpan produk dengan mengontrol kadar air.
Di industri komposit, MCC berfungsi sebagai penguat material, termasuk dalam bentuk nanoselulosa untuk meningkatkan sifat mekanik produk.
BACA JUGA: Prabowo Bangga Sawit Jadi Energi Strategis, Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sedangkan di sektor kosmetik, MCC dimanfaatkan sebagai bahan penstabil, pengontrol minyak, serta pemberi tekstur pada produk seperti krim dan bedak.
Menuju Produksi Skala Industri
Terkait pengembangan ke tahap industri, BRIN telah melakukan perhitungan matang, termasuk strategi efisiensi biaya produksi.
Penggunaan asam organik dengan bahan kimia teknis dinilai mampu menekan biaya, meskipun membutuhkan waktu proses lebih lama.
BACA JUGA: Mekanisasi Perkebunan Sawit Buka Peluang Baru bagi Pekerja Perempuan
“Untuk aplikasi pangan dan farmasi, penggunaan asam organik lebih sesuai karena menghasilkan kualitas produk yang lebih baik,” jelas Holilah.
Kepala PRBB BRIN, Akbar Hanif Dawam, menegaskan bahwa inovasi seperti Inacell diharapkan dapat mendukung kemandirian industri nasional.
“Inovasi ini tidak hanya untuk sektor kesehatan dan farmasi, tetapi juga berbagai industri lainnya,” ujarnya.
Pengembangan Inacell menjadi bukti bahwa hilirisasi sawit tidak hanya terbatas pada energi atau pangan, tetapi juga merambah sektor material maju.
Dengan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tinggi, industri sawit Indonesia berpeluang memperkuat daya saing sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan di masa depan. (T2)
