InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis buku Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia pada Maret 2026, yang menjadi acuan penting bagi berbagai sektor dalam mengantisipasi kondisi iklim yang diperkirakan lebih ekstrem dibandingkan normal.
Dilansir InfoSAWIT dari BMKG, pada Sabtu (28/3/2026), musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika iklim global dan regional, meskipun saat ini fenomena ENSO berada pada fase netral.
“Sebanyak 64,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya, serta 57,2% wilayah lainnya diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang,” ungkap BMKG dalam laporan tersebut.
BACA JUGA: Bergerak Variatif, AALI dan LSIP Menguat di Tengah Tekanan Sebagian Saham Lain
BMKG juga mencatat, awal musim kemarau diprediksi maju di 325 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 46,5% wilayah Indonesia. Sementara puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4% wilayah.
“Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, dengan periode April hingga Juni menjadi fase awal masuknya musim kemarau secara bertahap,” lanjut BMKG.
Secara spasial, awal kemarau diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian meluas ke Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi dan Sumatera. Adapun periode Juli hingga September 2026 diprediksi menjadi fase paling kritis, terutama terkait ketersediaan air dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BACA JUGA: Transformasi Berbuah Hasil, PalmCo Jadi Motor Pertumbuhan Tercepat PTPN Group
BMKG menjelaskan, kondisi kemarau 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain berakhirnya La Nina Lemah pada Februari 2026 dan kondisi ENSO yang kini berada pada fase netral.
“Indeks ENSO menunjukkan kondisi netral dan diprediksi bertahan hingga pertengahan 2026, sehingga tidak ada tambahan curah hujan signifikan yang biasanya terjadi saat La Nina,” ungkap BMKG.
Selain itu, pengaruh Monsun Australia yang mulai aktif sejak Maret 2026 juga menjadi faktor dominan yang mendorong terbentuknya musim kemarau di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
BACA JUGA: Ombudsman Siap Kooperatif Usai Penggeledahan Kejagung Terkait Kasus CPO
Di sisi lain, suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang cenderung hangat masih berpotensi mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah, meskipun tidak cukup kuat untuk menahan dominasi musim kemarau.
Bagi sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, kondisi ini menjadi perhatian serius. Wilayah sentra sawit seperti Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Tengah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026 dengan durasi yang lebih panjang dari normal.
“Ancaman utama yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kebakaran lahan serta gangguan terhadap pertumbuhan dan produksi akibat kekurangan air,” ungkap BMKG.
BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi lintas sektor, mulai dari penyesuaian jadwal tanam di sektor pertanian, optimalisasi pengelolaan air, hingga peningkatan sistem deteksi dini kebakaran di sektor kehutanan.
