Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut, kuatnya permintaan global dan domestik turut menopang harga CPO.
“Kebijakan B40 membuat permintaan domestik kuat dan para emiten bisa memanfaatkan tingginya harga CPO sepanjang tahun lalu,” katanya.
Meski kinerja masih berpotensi tumbuh, prospek emiten CPO pada 2026 diproyeksikan cenderung mixed dengan pertumbuhan moderat.
BACA JUGA: BMKG Rilis Prediksi Kemarau 2026, Datang Lebih Awal dan Lebih Kering di Mayoritas Wilayah
Azis menjelaskan, penundaan kebijakan B50 berpotensi menahan peningkatan permintaan domestik. Di sisi lain, kenaikan biaya operasional seperti pupuk impor juga menjadi tekanan bagi emiten.
“Secara valuasi, masih ada emiten yang undervalue seperti LSIP dengan PER di kisaran 4,93x,” katanya.
Ia merekomendasikan beli untuk LSIP dengan target harga Rp 1.450 per saham.
BACA JUGA: Komunikasi Korporasi sebagai Mitra Strategis Direksi
Sementara itu, Nafan melihat kebijakan B40 yang tetap berjalan dapat menjadi katalis positif di 2026. Ia juga menilai dinamika geopolitik global berpotensi mendorong harga CPO sebagai substitusi energi.
“Namun, industri sawit juga sensitif terhadap kebijakan ESG global,” ujarnya.
Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk AALI dengan target Rp 8.700 per saham, serta add untuk LSIP, TAPG, dan SIMP masing-masing dengan target Rp 1.435, Rp 2.080, dan Rp 700 per saham. (T2)
