InfoSAWIT, JAKARTA – Kebutuhan unsur hara mikro boron pada tanaman kelapa sawit masih kerap diabaikan oleh petani, padahal perannya sangat vital dalam mendukung proses penyerbukan dan produktivitas tandan buah segar (TBS).
Praktisi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Djan Muhayat, mengungkapkan bahwa kondisi optimal kandungan boron pada daun sawit berada pada kisaran 8–15 ppm. Jika dikonversi ke kebutuhan pupuk, tanaman sawit idealnya memerlukan sekitar 46 gram boron murni atau setara dengan 100–125 gram pupuk boron per tanaman per tahun.
“Kalau kita lihat kondisi di lapangan, banyak petani yang sebenarnya masih kekurangan boron. Misalnya dari pemupukan NPK, kandungan boron yang diberikan belum mencukupi kebutuhan tanaman,” jelas Djan dikutip InfoSAWIT dari laman Reels PPKS, Jumat (3/4/2026).
BACA JUGA: Implementasi B50 Berpotensi Picu Surplus Gasoil, Pemerintah Jaga Stabilitas Harga BBM
Ia mencontohkan, penggunaan pupuk majemuk seperti NPK dengan kandungan boron 0,5% pada dosis 6 kg per tahun hanya menghasilkan sekitar 30 gram boron dalam bentuk B2O3. Angka ini masih di bawah kebutuhan ideal, sehingga tanaman mengalami defisit sekitar 16 gram boron.
“Kalau dikonversi, kekurangan itu setara dengan tambahan sekitar 30–50 gram pupuk boron per tanaman. Ini bisa diberikan sebagai pupuk tunggal untuk melengkapi kekurangan,” ungkapnya.
Peran Penting Boron dalam Penyerbukan
Djan menekankan bahwa boron merupakan unsur hara mikro yang berperan langsung dalam meningkatkan kualitas penyerbukan pada tanaman sawit. Boron membantu memperbaiki kondisi bunga betina sehingga lebih menarik bagi serangga penyerbuk.
BACA JUGA: Agrinas Palma dan KPBN Perkuat Transparansi Harga Sawit Lewat Skema E-Bidding
“Ketika boron cukup, bunga betina menjadi lebih ‘harum’ dan menarik bagi serangga penyerbuk. Semakin banyak serangga yang datang, maka peluang terbentuknya buah juga semakin tinggi,” jelasnya.
Ia menambahkan, seringkali gejala produksi yang terlihat stagnan atau tidak optimal bukan hanya disebabkan oleh faktor makro seperti nitrogen atau fosfor, tetapi juga karena mekanisme penyerbukan yang tidak maksimal akibat kekurangan boron.
Strategi Pemupukan di Lahan Gambut
Dalam konteks pemilihan pupuk majemuk, Djan juga menyoroti kondisi lahan gambut yang umumnya memiliki keterbatasan ketersediaan fosfor. Oleh karena itu, pemilihan formulasi pupuk seperti NPK perlu disesuaikan dengan kondisi lahan.
BACA JUGA: Uni Eropa Perketat Klaim “Hijau”, RSPO Ingatkan Industri Sawit Hindari Istilah Menyesatkan
“Di lahan gambut, ketersediaan fosfat sering menjadi kendala. Jadi penggunaan pupuk seperti 13-6-7 masih relevan, selama kebutuhan unsur lainnya tetap terpenuhi,” jelasnya.
Ia mengibaratkan unsur hara sebagai sumber energi bagi tanaman. “Kalau fosfor sebagai Adenosine Triphosphate (ATP) itu tidak cukup, ibarat baterai lemah, maka proses metabolisme tanaman juga akan terganggu,” tambahnya.
Djan menegaskan pentingnya edukasi kepada petani terkait dosis dan cara aplikasi pupuk mikro seperti boron. Ia menyarankan penggunaan alat ukur sederhana seperti timbangan agar dosis yang diberikan lebih akurat.
BACA JUGA: Mulai Juli 2026, B50 Resmi Diterapkan, Hemat 4 Juta KL BBM dan Dorong Surplus Solar
“Kadang petani hanya pakai takaran sendok, padahal 30 gram itu tidak selalu sama. Lebih baik gunakan timbangan sederhana supaya dosisnya tepat,” katanya.
Dengan pemupukan yang lebih presisi dan pemahaman yang baik tentang kebutuhan unsur hara, diharapkan produktivitas kebun sawit petani dapat meningkat secara optimal. (T2)
