InfoSAWIT, JAKARTA – Limbah abu boiler dari industri kelapa sawit yang selama ini identik sebagai residu pembakaran bernilai ekonomi rendah, kini mulai dilirik sebagai sumber material maju untuk pengembangan teknologi energi masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengeksplorasi potensi nanosilika yang diekstraksi dari limbah abu boiler sawit untuk mendukung pengembangan sistem penyimpanan energi fleksibel, termasuk bagi perangkat elektronik wearable generasi baru.
Dilansir InfoSAWIT dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Minggu (10/5/2026), limbah abu boiler dari industri kelapa sawit yang volumenya mencapai jutaan ton setiap tahun masih menjadi tantangan lingkungan karena pemanfaatannya belum optimal. Padahal, limbah tersebut mengandung silika (SiO₂) sebesar 50–65 persen, bahan baku penting yang dapat diolah menjadi nanosilika—material berukuran ultra kecil sekitar 8–10 nanometer dengan karakteristik fisik dan kimia unggul.
Material nanosilika dikenal memiliki luas permukaan tinggi, struktur pori yang dapat direkayasa, serta mudah dimodifikasi secara kimia, menjadikannya komponen strategis dalam berbagai aplikasi industri, mulai dari kosmetik, biomedis, konstruksi, elektronik, hingga sistem energi berteknologi tinggi.
BACA JUGA: BRI Serahkan 2 Bus Sekolah untuk Pelajar di Kebun Sawit Agrinas Palma Nusantara
Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Rike Yudianti, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mengembangkan superkapasitor fleksibel—perangkat penyimpanan energi yang dapat ditekuk mengikuti pergerakan tubuh manusia—untuk menjawab kebutuhan perangkat elektronik wearable yang terus berkembang.
Menurut Rike, salah satu tantangan utama dalam pengembangan superkapasitor fleksibel adalah penggunaan elektrolit cair, yang dinilai masih menyimpan berbagai kelemahan, mulai dari risiko kebocoran, mudah menguap, hingga stabilitas elektrokimia yang menurun ketika perangkat mengalami pelipatan berulang, terutama dalam suhu tinggi dan penggunaan jangka panjang.
Karena itu, BRIN kini mengarahkan riset pada pengembangan elektrolit padat sebagai solusi yang lebih stabil, aman, dan adaptif untuk perangkat elektronik fleksibel.
BACA JUGA: DPN Tekankan Produktivitas Sawit Jadi Kunci Sukses Program B50
Dalam sistem ini, nanosilika dari limbah sawit memegang peran penting. Kandungan gugus silanol (–Si–OH) pada nanosilika mampu meningkatkan kontak antara elektrolit dan elektroda, memperbaiki disosiasi molekul dalam sistem elektrolit, sekaligus mempercepat transfer ion—tiga faktor kunci dalam meningkatkan performa penyimpanan energi.
“Pengembangan elektrolit padat untuk superkapasitor fleksibel menjadi sangat menarik sekaligus menantang, karena bukan hanya material elektrolitnya yang harus stabil, tetapi juga interaksi pada antarmuka antara elektrolit dan elektroda,” ungkap Rike.
Ia menambahkan, tim peneliti kini telah berhasil menjaga stabilitas elektrokimia sistem tersebut saat beroperasi, sebuah capaian penting dalam pengembangan teknologi penyimpanan energi fleksibel.
BACA JUGA: GAPKI Dorong Perbaikan Sistem Kerja Harian Sawit Lewat Workshop Padu Perkasa di Bengkulu
Riset ini dilakukan melalui kolaborasi dengan salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia serta mitra akademik di Jepang. Selain merancang material elektrolit padat, BRIN juga mengembangkan strategi perakitan perangkat agar performa superkapasitor tetap optimal meskipun digunakan dalam kondisi lentur dan dinamis.
Pengembangan ini membuka perspektif baru bahwa limbah sawit tak hanya bernilai sebagai biomassa atau pupuk, tetapi juga dapat menjadi bahan baku material teknologi tinggi untuk industri masa depan.
Jika berhasil dikembangkan secara komersial, nanosilika berbasis limbah abu boiler sawit berpotensi menjadi contoh nyata bagaimana industri sawit Indonesia tidak hanya menghasilkan komoditas pangan dan energi, tetapi juga memasok material strategis bagi ekosistem teknologi penyimpanan energi generasi berikutnya. (T2)
