Para pakar sepakat bahwa Indonesia memerlukan tim ahli permanen yang didukung riset akademik berkelanjutan serta narasi yang konsisten mengenai konsep like products untuk memperkuat posisi dalam menghadapi berbagai sengketa perdagangan sekaligus melindungi kepentingan jutaan petani sawit.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan Energi Nasional sekaligus Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fadil Hasan, menyoroti ketahanan industri sawit nasional yang ditopang oleh keseimbangan kepemilikan perkebunan antara perusahaan dan petani swadaya.
Menurutnya, strategi hilirisasi yang terus diperluas serta implementasi program biodiesel domestik akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas industri sawit nasional di tengah fluktuasi pasar global.
BACA JUGA: Heru Tri Widarto: Program B50 Jadi Momentum Tingkatkan Produktivitas Sawit Nasional
Menutup rangkaian pelatihan hari kedua, seluruh peserta menyepakati pentingnya membangun konsorsium lintas kementerian dan lembaga, memperkuat kolaborasi akademisi, serta membentuk tim ahli permanen yang mampu menyediakan dukungan ilmiah bagi diplomasi sawit Indonesia.
Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional melalui diplomasi berbasis sains, konsolidasi kebijakan nasional, dan peningkatan kapasitas para negosiator dalam memperjuangkan kepentingan industri sawit nasional di tengah persaingan global yang semakin dinamis. (T2)
