InfoSAWIT, PEKANBARU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau meningkatkan pemantauan dan langkah mitigasi setelah seorang pekerja kebun kelapa sawit di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, dilaporkan nyaris menjadi korban interaksi dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan pihaknya menerima laporan dugaan interaksi negatif antara satwa dilindungi tersebut dengan seorang warga yang terjadi pada 14 Juli 2026. Menindaklanjuti laporan itu, tim langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, tim segera melakukan pengecekan untuk memastikan kronologi kejadian serta memantau kondisi di sekitar lokasi,” ujar Supartono, diansir InfoSAWIT dari Media Center Riau , Jumat (24/7/2026).
BACA JUGA: Heru Tri Widarto: Program B50 Jadi Momentum Tingkatkan Produktivitas Sawit Nasional
Dari hasil penelusuran, diketahui korban bernama Agus merupakan pekerja di kebun sawit milik Ahmad Rokani. Saat kejadian sekitar pukul 10.00 WIB, Agus sedang mengangkut tandan buah segar (TBS) menggunakan sepeda motor melintasi areal perkebunan.
Ketika melintas di lokasi, seekor Harimau Sumatera tiba-tiba melompat ke bagian belakang sepeda motor dan mencakar keranjang yang dibawa korban. Agus yang terkejut segera mempercepat laju kendaraannya hingga berhasil melepaskan diri dari ancaman satwa tersebut tanpa mengalami luka.
BBKSDA Riau juga memperoleh informasi mengenai kemunculan harimau lainnya pada 18 Juli 2026. Dua warga, Amir dan Dodi, mengaku melihat seekor Harimau Sumatera di sekitar Kilometer 4 Desa Mengkapan pada siang hari.
BACA JUGA: 118 Pekebun Empat Lawang Perkuat Kompetensi Budidaya Sawit Berkelanjutan Lewat Pelatihan BPDP
Menurut keterangan saksi, harimau sempat melompat dari parit di sisi jalur pipa menuju badan jalan. Namun, saat berpapasan dengan kendaraan yang dikendarai Amir, satwa itu kembali berbalik masuk ke arah parit dan tidak menunjukkan perilaku agresif.
Meski telah melakukan penyisiran di lokasi, tim BBKSDA Riau belum menemukan jejak maupun tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera yang dilaporkan warga.
Informasi dari masyarakat setempat juga menunjukkan bahwa kemunculan harimau di kawasan tersebut bukan merupakan kejadian pertama. Warga, termasuk Gianto, mengaku beberapa kali melihat satwa itu melintas di sekitar perkebunan maupun kawasan sekitar desa. Namun hingga kini, kemunculan tersebut umumnya tidak disertai serangan terhadap manusia.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo: Riset Sawit Harus Menjawab Kebutuhan Industri dan Petani di Tengah Tantangan B50
Menyikapi kondisi tersebut, BBKSDA Riau akan terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan, dan masyarakat untuk memperkuat pemantauan sekaligus menjalankan berbagai langkah mitigasi konflik satwa liar.
Selain itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan patroli siskamling, terutama pada malam hari, serta segera melaporkan kepada petugas BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila menemukan keberadaan Harimau Sumatera maupun satwa liar lainnya di sekitar permukiman dan area perkebunan.
Supartono juga mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas seorang diri di kawasan yang diduga menjadi jalur lintasan satwa liar, khususnya pada sore hingga malam hari, demi meminimalkan risiko terjadinya konflik antara manusia dan Harimau Sumatera. (T2)
