Konsumsi Sawit Domestik Tembus 12,99 Juta Ton, Pasar Sawit Berkelanjutan Menjanjikan

oleh -420 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/ Crude Palm Oil (CPO).

JAKARTA, INFOSAWIT – Besarnya pasar minyak sawit di dalam negeri dinilai dapat menjadi salah satu pengungkit utama untuk memperkuat permintaan terhadap produk sawit berkelanjutan di Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Sustainable Commodities Lead WWF Indonesia, Angga Prathama Putra, dalam Regional Learning Forum on Sustainable Commodities di Jakarta, Jumat. Menurutnya, penguatan pasar domestik merupakan bagian penting dalam strategi transformasi pasar komoditas berkelanjutan, selain memperkuat produsen di sisi hulu dan memperluas pasar global. “Pasar domestik juga penting,” kata Angga, dilansir InfoSAWIT dari Antara, Minggu (30/8/2026).

Indonesia memiliki basis pasar sawit yang sangat besar karena tidak hanya berstatus sebagai salah satu produsen utama dunia, tetapi juga memiliki konsumsi domestik yang terus berkembang. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan konsumsi minyak sawit domestik pada Januari-Juni 2026 mencapai 12,99 juta ton, meningkat 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,27 juta ton.

BACA JUGA: Mendag Dorong Hilirisasi dan Keberlanjutan Industri Sawit untuk Perkuat Daya Saing Global

Khusus pada Juni 2026, konsumsi sawit domestik tercatat mencapai sekitar 2,20 juta ton. Biodiesel menjadi sektor dengan serapan terbesar, yakni 1,13 juta ton, kemudian sektor pangan sebesar 878 ribu ton dan oleokimia sebanyak 192 ribu ton.

 

Biodiesel Perkuat Serapan Sawit Domestik

Peran pasar domestik diperkirakan semakin strategis seiring diberlakukannya mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut meningkatkan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi sekaligus memperkuat serapan CPO di pasar dalam negeri.

Dalam kerangka transformasi pasar, WWF tidak hanya melihat peluang di Indonesia. Pengembangan pasar global, termasuk India, China, dan Jepang, juga menjadi bagian dari strategi. Di saat yang sama, penguatan sektor hulu diperlukan agar produsen, termasuk pekebun, mampu memenuhi kebutuhan pasar yang semakin menuntut aspek keberlanjutan.

BACA JUGA: Stok Sawit Malaysia Tembus 2,63 Juta Ton, Harga CPO Tetap Kokoh Dibayangi Risiko El Niño

Menurut WWF, besarnya konsumsi domestik memberikan peluang bagi perusahaan, pengguna komoditas, hingga sektor ritel untuk memperluas penerapan prinsip keberlanjutan dalam rantai pasok.

Kajian WWF Indonesia bersama Accenture yang dirilis pada Mei 2026 juga menunjukkan adanya peluang yang semakin besar bagi sektor ritel dan pengguna komoditas di Indonesia untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam rantai pasok, termasuk komoditas kelapa sawit.

 

Tantangan Pekebun Masih Jadi Perhatian

Meski peluang pasar cukup besar, WWF menilai peningkatan permintaan terhadap produk sawit berkelanjutan harus diikuti dengan kesiapan rantai pasok dan produsen di tingkat hulu.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Jumat (28/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat

Sejumlah tantangan masih dihadapi dalam mendorong produksi sawit berkelanjutan. Di antaranya registrasi lahan yang belum lengkap, produktivitas pekebun yang masih rendah, keterbatasan pembiayaan, lemahnya ketertelusuran, serta keterbatasan sistem digital.

Karena itu, transparansi rantai pasok menjadi salah satu aspek penting dalam proses transformasi pasar sawit berkelanjutan.

“Transparansi rantai pasok adalah kata kunci untuk transformasi pasar,” ujar Angga.

BACA JUGA: MPOC: Musim Monsun Berpotensi Redam Dampak Super El Niño terhadap Produksi Sawit Malaysia

WWF juga menempatkan ketertelusuran dan sumber bahan baku berkelanjutan, sertifikasi yang kredibel, pemberian insentif kepada pekebun untuk mengimbangi biaya sertifikasi, pembiayaan konservasi, serta pengembangan pasar domestik sebagai bagian dari kerangka penguatan komoditas berkelanjutan.

 

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Transformasi tata kelola sawit berkelanjutan dinilai tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pada April 2026, Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan WWF Indonesia berkolaborasi dalam transformasi tata kelola sawit yang antara lain menekankan penerapan praktik pertanian yang baik, prinsip keberlanjutan, serta penguatan pendampingan bagi pekebun swadaya.

Angga menilai keterlibatan pekebun, pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan lainnya dibutuhkan agar transformasi tersebut dapat berjalan secara efektif.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com