Ekonom Nilai Transisi Harus Berlangsung Bertahap
Strategi dual growth Pertamina mendapat penilaian positif dari ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal.
Menurut Faisal, minyak dan gas masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi domestik. Namun, karena migas merupakan sumber energi tidak terbarukan dengan cadangan yang semakin terbatas, Pertamina perlu menyiapkan sumber pertumbuhan baru.
Pengembangan EBT, menurut Faisal, menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun pada Rabu (8/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
“Harus mencari sumber lain di luar migas untuk yang kaitannya dengan energi, untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan domestik yang semakin terus mengalami peningkatan sejalan dengan upaya juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Faisal.
Meski demikian, Faisal menilai pergeseran dari migas menuju EBT perlu dilakukan secara bertahap. Bisnis migas masih dapat menjadi penopang selama Pertamina membangun ekosistem energi baru.
Pendekatan tersebut disebut sebagai safe transition, yakni mempertahankan bisnis migas sembari meningkatkan pengembangan EBT agar perubahan tidak menimbulkan guncangan terlalu besar terhadap kinerja perusahaan.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gelar Pasar Rakyat dan Cek Kesehatan Gratis di Labuhanbatu Utara
Bauran EBT Nasional Baru 17,3 Persen
Tantangan transisi energi juga tercermin dari capaian bauran energi baru dan terbarukan nasional. Kementerian ESDM mencatat bauran EBT Indonesia pada semester I 2026 baru mencapai 17,3 persen.
Angka tersebut masih harus ditingkatkan untuk mencapai target pemerintah sebesar 30 persen pada 2034.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan EBT menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam mendorong swasembada energi.
BACA JUGA: BRIN Dorong Diversifikasi Produk Hilir Sawit Berbasis Riset dan Inovasi
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik global dapat mengganggu rantai pasok energi dan berdampak pada harga energi, inflasi, biaya produksi, hingga beban subsidi dan kompensasi pemerintah.
Dalam konteks tersebut, strategi dual growth Pertamina tidak hanya menjadi pilihan korporasi, tetapi juga merespons kebutuhan Indonesia untuk menjaga ketahanan energi sekaligus menyiapkan sumber energi yang lebih beragam.
Pertamina menargetkan pendekatan tersebut mampu menjaga kebutuhan energi nasional saat ini sembari membangun fondasi energi masa depan menuju Net Zero Emission 2060.
Sebagai bagian dari komitmennya, Pertamina menyatakan akan terus mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong program yang berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Transformasi tersebut juga diarahkan pada penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional perusahaan. (T2)



















