InfoSAWIT, MUMBAI – Impor minyak nabati India meningkat pada Agustus 2026 seiring langkah perusahaan pengolah atau refinery memperkuat persediaan menjelang musim festival. Impor minyak sawit naik 7 persen secara bulanan menjadi 782.761 ton, sementara pembelian minyak kedelai atau soyoil melonjak ke rekor tertinggi.
Data dari Solvent Extractors’ Association of India (SEA) menunjukkan impor minyak sawit pada Agustus 2026 mencapai level tertinggi sejak Februari. Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan impor soyoil yang membuat total impor minyak nabati India mencapai level tertinggi dalam 11 bulan.
Impor soyoil India tercatat melonjak 26 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi rekor 628.736 ton. Sebaliknya, impor minyak bunga matahari turun 36 persen menjadi 160.639 ton.
BACA JUGA: DPPPA Kutai Timur Dorong Perusahaan Sawit Terapkan Kerja Layak Responsif Gender
Dilansir InfoSAWIT dari India Times, Kamis (17/9/2026), secara keseluruhan, impor minyak nabati India pada Agustus meningkat 1,5 persen menjadi 1,57 juta ton. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pengiriman minyak sawit dan soyoil ke negara konsumen minyak nabati terbesar dunia tersebut.
Seorang pedagang yang berbasis di Mumbai dari perusahaan perdagangan global mengatakan refinery meningkatkan pembelian untuk membangun persediaan menjelang musim festival. India biasanya memasuki rangkaian festival pada Agustus hingga November, periode ketika permintaan minyak nabati cenderung mencapai puncaknya.
Harga soyoil yang relatif kompetitif dibandingkan minyak sawit juga diperkirakan menjaga tingginya permintaan pada September. Seorang pedagang dari perusahaan perdagangan global di New Delhi memperkirakan pengiriman soyoil pada bulan tersebut tetap berada di atas 600.000 ton.
Menurut pedagang tersebut, gangguan pengiriman minyak bunga matahari dari kawasan Laut Hitam akibat perang turut mendorong refinery India meningkatkan pembelian soyoil sebagai alternatif pasokan.
Besarnya aktivitas pembelian minyak nabati India juga mulai menimbulkan kepadatan di sejumlah pelabuhan utama. Kondisi tersebut menyebabkan proses bongkar muat kapal tertunda hingga sekitar 10 hari karena kapasitas tangki penyimpanan di darat semakin terbatas, sementara refinery masih berupaya mengosongkan stok untuk menerima kargo berikutnya.
Peningkatan impor India berpotensi memberikan dukungan terhadap pasar minyak nabati global. Bertambahnya pembelian minyak sawit dan soyoil dari konsumen utama dunia dapat membantu produsen utama seperti Indonesia, Malaysia, serta Argentina dalam menyalurkan persediaan mereka dan berpotensi menopang harga berjangka minyak sawit maupun minyak kedelai.
BACA JUGA: Harga CPO Diproyeksi Tetap Kuat, Risiko El Niño Jadi Penopang hingga 2027
India sendiri mendapatkan sebagian besar kebutuhan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Sementara itu, kebutuhan soyoil dan minyak bunga matahari terutama dipasok dari Argentina, Brasil, Rusia, dan Ukraina. (T2)
















