OJK Resmi Terbitkan Taksonomi Hijau Dorong Pembiayaan Dengan Prinsip Berkelanjutan     

oleh -3.057 Kali Dibaca
infosawit
Dok. infosawit

InfoSAWIT, JAKARTA  –  Otoritas  Jasa  Keuangan  (OJK)  hari  ini  resmi  mengeluarkan  dokumen Taksonomi   Hijau  sebagai      upaya      mempercepat     program      pembiayaan     dengan prinsip  berkelanjutan   di sektor jasa   keuangan,   langkah   ini   mendapatkan   apresiasi   dari   organisasi  masyarakat   sipil   yang   melihat   hal   ini   sebagai   langkah   positif   pemerintah   Indonesia,   sejalan  dengan     keputusan     Presiden     Jokowi     mencabut     lebih    dari 2.000     izin    untuk   perkebunan,  kehutanan,  pertambangan  logam,  mineral  dan  batubara  di  seluruh  nusantara  pada  Januari  2022  lalu  untuk  menangani  ilegalitas  di  sektor  Sumber  Daya  Alam  (SDA).

Diungkapkan Direktur  Eksekutif  TuK  INDONESIA, Edi Sutrisno, peristiwa-­peristiwa  ini  menunjukkan  risiko  material  bagi  bank-­bank  yang  terpapar  pada  sektor-­ sektor   yang   berisiko   terhadap   hutan   seperti   kelapa   sawit   dan   kayu,   di   mana   ilegalitas   dan  ketidakpatuhan     begitu     merajalela.    

“Tanpa uji tuntas yang lebih tinggi dan perlindungan  Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola yang kuat,     kemungkinan besar bank akan terus menempatkan pendanaanya pada sektor berisiko. Penerapan   Taksonomi Hijau OJK ini bisa langsung diuji pada perusahaan yang dicabut izinnya ini,” tutur Edi, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoSAWIT, belum lama ini. 

BACA JUGA : Kampanye Positif Sawit dan Batu Bara Perlu Diperkuat

Dari  daftar  perusahaan-perusahaan  yang  telah  dicabut  izinnya  ada  tiga  anak  perusahaan  Korindo  yang  akan  kehilangan  area  izin  yang  cukup  besar, lebih dari  65.000  ha  izin  pemanfaatan  hutan,  yaitu   PT.  Papua  Agro  Lestari  (32.348  ha),  PT.  Tunas  Sawa  Erma  (19.001  ha)  dan  PT.  Berkat  Cipta  Abadi  II  (14.435  ha). 

Ini  adalah  area  yang  sebagian  besar  belum  dikembangkan  oleh  perusahaan  dan memiliki  area  hutan  hujan  primer  yang  luas.  Area  izin  yang  dicabut  setara  dengan  lebih  dari  40%  dari  total  area  konsesi  Korindo,  dan  hampir  pasti  akan  berdampak  pada  nilai  aset  grup.  Namun,  Bank   Negara   Indonesia   (BNI)   secara   konsisten   tetap    melaporkan   Korindo   sebagai  10  klien  teratas  mereka  untuk  pertanian,  dan  memberikan  pinjaman  terutang  sebesar  US$  191  juta  pada  tahun  2018.

“BNI    seharusnya    sangat    memperhatikan    bagaimana    pembiayaan    mereka    terpapar    pada  perusahaan   berisiko   tinggi,   sekarang   dengan   substansial   aset   terlantar,   apapun   keputusan  negara,  Lembaga  Jasa  Keuangan  harus  merespon  ini,”  kata  Edi 

Meskipun  demikian,  motivasi  di  balik  pencabutan  izin  ini  masih  belum  jelas  dan  tidak  diketahui  apakah   langkah   pencabutan   ini   akan   membantu  memulihkan  hak   atas   tanah   dan   mengakhiri  deforestasi,   atau   apakah   tanah   akan   dialihkan  ke perusahaan lain hingga   melanggengkan  perampasan  lahan  dan  konflik  dengan  masyarakat  dan  menjadi  pemicu  deforestasi. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com