InfoSAWIT, SANUR – Keberadaan petani kelapa sawit yang kurang mendapat dukungan, jadi perhatian bagi Kaleka sebagai Organisasi nirlaba (NGO). Sebagai NGO, Kaleka didirikan dengan visi bentang alam darat dan laut Indonesia dikelola secara berkelanjutan.
NGO ini didirikan pada tahun 2014 silam, semula bernama Inovasi Bumi (Inobu), yang kemudian berubah menjadi Kaleka. Dalam istilah Dayak, Kaleka bagi agroforestri menunjukkan praktik lokal mengenai pertanian berkelanjutan dan namanya lebih generik asli Indonesia.
Chairman Kaleka, Bernadinus Steni Sugiarto mengungkapkan, keberadaan NGO ini, yang melakukan advokasi kepada petani kelapa sawit. Sasaran utamanya kepada ekonomi pedesaan yang makmur dan berkelanjutan serta memberi manfaat bagi petani, nelayan, komunitas penjaga hutan, sembari menjaga dan memulihkan alam.
BACA JUGA: Mengasah Daya Kritis dan Skeptis Jurnalis, Untuk Hasilkan Tulisan Berkualitas
“Kami melakukan pendekatan berbasis dampak terukur dan skala luas melalui pendekatan yuridiksi”, Ungkap Steni, lebih lanjut, “Riset terapan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan kami lakukan,” kata Steni saat Pelatihan Jurnalistik Kaleka yang diikuti InfoSAWIT, Minggu (27/8/2023) di Sanur, Bali.
Kendati kurang populer bagi NGO, namun bagi Kaleka, komoditas sawit dan lainnya di pedesaan, telah menjadi lokomotif ekonomi masyarakat.
“Sebanyak 91,15 persen, sawit telah berkontribusi bagi ekonomi rumah tangga”, kata Steni menjelaskan hasil studi Kaleka di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. (T1)
