InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Stok minyak sawit di Malaysia kemungkinan besar akan membengkak ke level tertinggi selama periode enam bulan terakhir hingga Agustus, lantaran produksi meningkat sementara ekspor melemah.
Dalam survey yang dilakukan Bloomberg, tercatat persediaan naik sekitar 10% dari bulan sebelumnya menjadi 1,90 juta ton. Hal ini berarti stok telah melonjak sekitar 27% dari level terendah di bulan April, dan dapat menjadi sinyal hambatan bagi harga acuan minyak sawit.
Produksi minyak sawit mentah naik sekitar 7,5% menjadi 1,73 juta ton, tertinggi sejak Oktober 2022, menurut survei. Namun ekspor diperkirakan turun 1,5% menjadi 1,33 juta ton, setelah melonjak 16% pada bulan sebelumnya.
BACA JUGA: Peremajaan Sawit Rakyat di Riau Capai 4.150 hektare, Dari Target 10.550 Ha
Dilansir Bloomberg, harga minyak sawit berjangka di Kuala Lumpur kesulitan untuk bertahan di atas angka psikologis RM 4.000 ditengah kekhawatiran bahwa harga yang tinggi akan mengikis permintaan. Harga tercatat turun pada perdagangan di Bursa Malaysia di Selasa, (5/9/2023) atau turun 0,6% menjadi RM 3,961 per ton pada tengah hari.
Para investor juga mencermati laju produksi di Malaysia, yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September dan Oktober. Meskipun stok dapat terakumulasi dalam beberapa bulan mendatang, namun diperkirakan akan dibatasi oleh pertumbuhan produksi yang lebih lambat dari perkiraan dan permintaan konsumen yang stabil menjelang hari raya besar.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN 6 September 2023 Melorot Lagi Rp 100/Kg
“Seperti di Tiongkok ada festival Golden Week dan di India terdapat Diwali yang dirayakan pada bulan November,” tutur Analis Senior di Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa. (T2)
