InfoSAWIT, SINGAPURA – Harga kontrak minyak sawit di Bursa Malaysia naik pada Jumat, (3/11/2023) lantaran munculnya kekhawatiran atas berkurangnya pasokan yang melebihi kekhawatiran atas penurunan impor makanan ke India dan menurunnya permintaan Tiongkok.
Dilansir Reuters, harga kontrak acuan minyak sawit berkode FCPOc3 untuk pengiriman Januari 2024 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange diperdagangkan RM 3,784 per ton (US$ 798,82) per metrik ton pada istirahat tengah hari.
Tercatat harga kontrak acuan telah naik 0,2% selama periode satu minggu ini, dan menuju kenaikan mingguan keempat berturut-turut.
BACA JUGA: Pemerintah Riau Dorong Penggunaan Dana Bagi Hasil Sawit untuk Perbaikan Infrastruktur
Diungkapkan Direktur Pialang Comglobal yang berbasis di Singapura, Pranav Bajoria, kekurangan pasokan minyak sawit tercermin dalam harga berjangka jika dibandingkan dengan harga minyak nabati lainnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Isy Karim memastikan bahwa pemerintah Indonesia akan melanjutkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk minyak sawit hingga tahun 2024 dalam rangka menjaga stabilitas harga minyak goreng, sebelumnya kebijakan itu diberlakukan tahun lalu untuk mengendalikan melonjaknya harga. Produsen sawit hanya dapat mengekspor setelah mereka berhasil memenuhi pasar di dalam negeri.
Masih dilansir Reuters, harga kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian berkode DBYcv1 tercatat naik 1,6%, sedangkan kontrak minyak sawit berkode DCPcv1 naik 1,7%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade BOcv1 naik 0,5%.
BACA JUGA: Periode Harga CPO Tinggi Sudah Terlewati, ini Kata Ekonom
Minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya lantaran mereka bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak nabati global.
Kepada Reuters, enam pedagangan mencatat, Impor minyak nabati India pada bulan Oktober anjlok ke level terendah dalam 16 bulan karena stok yang lebih tinggi mendorong penyulingan untuk membatasi pembelian minyak nabati. (T2)
