InfoSAWIT, ACEH TAMIANG – Kondisi tanggul sungai Tamiang di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) wilayah Seruway semakin memprihatinkan, dengan bagian atasnya yang keropos dan runtuh akibat terus menerus dihantam arus sungai. Melihat kondisi faktual yang mengkhawatirkan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang tidak tinggal guna melakukan mitigasi risiko banjir yang dapat terjadi kapan saja.
Dalam kunjungan di Pekan Seruway pada Senin (22/1/24), Penjabat (Pj) Bupati Aceh Tamiang, Drs. Asra, menyatakan keadaan darurat ini dan mengakui bahwa pembuatan krib merupakan salah satu solusi jangka pendek terbaik. Krib tersebut diharapkan dapat mencegah kerusakan tanggul yang lebih parah. “Kondisinya sudah sangat parah, kritis. Kita khawatir kalau kena banjir sekali lagi, ini akan hancur,” ujar Asra dilansir dari laman resmi Pemkab aceh Tamiang, Jumat (26/1/2024).
Proses pembuatan krib menggunakan batang kelapa sawit ini telah dimulai sejak Selasa (16/1/2024) lalu di Pekan Seruway. Dengan harapan untuk menyelesaikan pemasangan krib pada tiga titik sungai dalam waktu 18 hari, langkah ini diambil sebagai upaya konkret untuk menghadapi krisis tanggul Sungai Tamiang.
BACA JUGA: Kementan Dorong Bersama Jaga Sawit Berkelanjutan dan Dorong Peremajaan Sawit Rakyat
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Iman Suhery, menjelaskan bahwa pihaknya memanfaatkan batang kelapa sawit untuk mengurangi ancaman banjir. Dengan target 17 tikungan sungai dilengkapi dengan krib pada tahun ini, BPBD berharap dapat meminimalisir dampak banjir di wilayah tersebut.
Meskipun kewenangan pengelolaan Sungai Tamiang berada di bawah Pemerintah Aceh, Pemkab Aceh Tamiang mengambil inisiatif untuk melakukan langkah darurat dan mitigasi risiko agar risiko banjir tidak semakin meluas.
BACA JUGA: BPDPKS Serahkan 23 Perjanjian Kerjasama Pendanaan Program Biodiesel Sawit 2024
“Kita tidak bisa karena tidak punya wewenang, tapi kondisi hari ini dilakukan dengan pola darurat dan mitigasi,” jelas Pj. Bupati Asra. (T2)
