“Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal ketersediaan TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) yang sering digunakan sebagai bahan baku pembangkitan energi terbarukan. Penggunaan TKKS sebagai mulsa lebih bermanfaat dalam jangka panjang untuk ekonomi sirkular kelapa sawit dibandingkan pembakaran untuk energi terbarukan,” catat Teoh Cheng Hai.
Lantas ada pandangan bahwa pertanian regeneratif dapat menjadi sistem alternatif yang beralih dari monokultur. Artikel dalam Dialog Tiongkok dan Mongabay mendukung tumpang sari kelapa sawit dengan tanaman lain untuk meningkatkan kesehatan tanah, menyerap karbon, dan meningkatkan pendapatan petani. Meskipun tumpang sari dilakukan oleh petani kecil selama fase kelapa sawit belum menghasilkan, penerapan di perkebunan yang sudah matang sangat menantang.
Berdasarkan pengalaman pengembangan rantai pasokan minyak sawit berkelanjutan, konsumen mungkin memerlukan verifikasi pihak ketiga bahwa komoditas yang mereka terima diproduksi sesuai dengan prinsip pertanian regeneratif.
BACA JUGA: De-Asidifikasi Minyak Kelapa Sawit (CPO) Dengan Pelarut
Mengingat adanya tumpang tindih BMP untuk produksi minyak sawit berkelanjutan dan pertanian regeneratif, RSPO, MSPO dan skema sertifikasi lainnya dapat menyelaraskan dan memperkuat standar mereka untuk memenuhi persyaratan pertanian regeneratif.
Namun, jika konsumen mengharuskan bahan mentah yang mereka peroleh harus disertifikasi berdasarkan standar pertanian regeneratif tertentu, maka sudah ada beberapa skema sertifikasi yang tersedia dan tidak perlu mengembangkan standar khusus untuk minyak sawit.
BACA JUGA: Tantangan di Perkebunan sawit Masih Seputar Peningkatan Produktivitas
Contoh penting adalah standar regenagri yang diprakarsai oleh Solidaridad/Control Union yang hingga saat ini telah mensertifikasi 1.013.455ha lahan untuk tanaman subur dan tanaman tahunan seperti kelapa sawit dan kopi yang diproduksi oleh lebih dari 90.000 perkebunan. (T2)
