InfoSAWIT, SINGAPURA – Bumitama Agri Ltd. (“Bumitama” atau “Grup”), yang terdaftar di Bursa Singapura (SGX) dan memiliki perkebunan kelapa sawit di Indonesia, baru saja merilis hasil kinerjanya untuk tiga bulan yang berakhir pada Maret 2024. Perusahaan ini dikenal dengan produk utama berupa minyak sawit mentah (“CPO”) dan inti sawit (“PK”).
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (14/5/2024), tercatat pendapatan pada kuartal pertama tahun 2024 (“1Q24”) mencapai Rp3,87 triliun, meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (“1Q23”). Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penjualan CPO yang mencapai 91% dari total penjualan. Volume penjualan CPO meningkat sebesar 7% YoY, meskipun ada penurunan harga jual rata-rata sebesar 1%.
“Penjualan CPO berkontribusi sebesar Rp 3,54 triliun pada 1Q24, naik dari Rp 3,32 triliun pada 1Q23,” demikian catat pihak perusahaan.
BACA JUGA: Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Naik 0,44 Persen Pada Perdagangan Selasa Pagi (14/5)
Kendati terdapat peningkatan pendapatan, laba bersih justru turun 23% YoY menjadi Rp 328,38 miliar pada 1Q24. Penurunan ini disebabkan oleh penguatan Dolar AS akibat kenaikan suku bunga The Fed yang berkepanjangan. Namun, jika tidak memperhitungkan kerugian nilai tukar, pendapatan inti melonjak 23% YoY mencapai Rp373,69 miliar. EBITDA juga meningkat 8% YoY menjadi Rp743,21 miliar dengan margin EBITDA naik 0,1 poin persentase menjadi 19,2%.
Pada bulan April, indeks ENSO kembali ke level netral, mengakhiri peristiwa cuaca El Niño 2023-2024 yang merupakan salah satu yang terkuat dalam sejarah. Kondisi cuaca ekstrem ini mengakibatkan siklus produksi minyak sawit yang rendah pada 1Q24, menciptakan situasi pasokan yang ketat bersamaan dengan peningkatan permintaan domestik selama bulan Ramadhan. Hal ini menyebabkan harga minyak sawit mencapai puncaknya di Rp13.400 per kg pada awal April.
Tingkat persediaan akhir di Indonesia pada bulan Februari mencapai 3,26 juta ton, 25% di bawah rata-rata 24 bulan. Malaysia mencatatkan 1,7 juta ton pada bulan Maret, di bawah tingkat kenyamanan 2 juta ton. Tanda jelas kekurangan pasokan ini terlihat dari Malaysia Derivative Exchange, dengan terbentuknya kurva backwardation futures mulai Januari, di mana harga spot diperdagangkan di atas perkiraan harga masa depan.
BACA JUGA: Hingga April 2024, Bank Riau Kepri Syariah Telah Salurkan Dana PSR Untuk 353 Petani
“Bumitama memproses 8% lebih banyak TBS pada 1Q24, dengan total 1,14 juta ton. Volume TBS internal meningkat 2% menjadi 764 ribu ton, sementara kontribusi eksternal meningkat 20% menjadi 387 ribu ton. Produksi CPO meningkat 9% YoY mencapai 256 ribu ton pada 1Q24. Tingkat ekstraksi minyak juga naik 0,4 poin persentase menjadi 22,5%,” kata pihak perusahaan dalam laporannya. (T2)
