InfoSAWIT, JAKARTA – Pengiriman produk sering kali menjadi tantangan terbesar, terutama saat harus menyerahkan produk akhir ke kilang pada waktu yang telah ditentukan dan bersumber dari minyak sawit berkelanjutan.
Tindakan kecil ini, meskipun tampak sepele, ternyata diterima oleh produsen barang konsumen besar dan menjadi titik balik sejarah yang penting. Hal ini bukan hanya tentang ekspor, tetapi juga tentang penerimaan standar berkelanjutan oleh industri.
Diungkapkan Advisor Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), MR. Chandran, penerimaan minyak sawit berkelanjutan RSPO menunjukkan bahwa ini telah mencapai standar tertinggi di antara semua model sertifikasi.
BACA JUGA: Balitbangda Pasaman Barat Kaji Gula Merah dari Air Pohon Sawit sebagai Sumber Pendapatan Baru
“Dalam lima tahun terakhir, Malaysia dan Indonesia berhasil mengurangi deforestasi. Banyak artikel pembelajaran yang diterbitkan mengungkapkan fakta ini, menunjukkan bahwa kami berhasil mengurangi deforestasi dan kerusakan lingkungan sambil meningkatkan manfaat sosial ekonomi bagi komunitas setempat,” tutur MR Chandran dikutip InfoSAWIT dari laman resmi RSPO ditulis Sabtu (25/5/2024).
Namun demikian, meskipun telah ada kemajuan, MR Chandran mengakui, masih terjebak pada serapan yang hanya mencapai sekitar 19-20% dari minyak sawit berkelanjutan yang di produksi anggota RSPO.
“Masih ada ratusan perusahaan yang belum mengambil langkah untuk menjadi anggota. Bagaimana kita dapat menarik mereka? Bagaimana kita dapat melibatkan mereka?,” tanya Chandran.
BACA JUGA: Sertifikasi ISPO Bagi Petani Berkelanjutan
Tercatat, ada kesulitan bagi RSPO karena argumennya adalah mengapa harus menjadi anggota ketika sudah ada keanggotaan lain yang wajib. Namun, saatnya telah tiba bagi semua untuk bekerja dalam harmoni.
