InfoSAWIT, JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia terus menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian nasional dan global. Dengan menghasilkan lebih dari 179 produk turunan, sektor ini tidak hanya terbatas pada minyak kelapa sawit dan inti sawit, namun juga merambah ke berbagai produk seperti kosmetik, pakaian, pasta gigi, lemak cokelat, fatty acid, surfaktan, hingga biodiesel. Hilirisasi sawit dianggap sebagai kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Menurut Analis Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (PKPN BKF Kemenkeu), Nursidik Istiawan, sekitar 58% dari produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia saat ini diekspor, dengan sebagian besar berupa produk turunan. Ini menunjukkan keberhasilan kebijakan hilirisasi yang telah diterapkan.
“Sektor kelapa sawit mendukung berbagai industri lainnya dan berkontribusi besar dalam peningkatan nilai tambah ekonomi,” kata Nursidik dikutip InfoSAWIT dari laman resmi Kemenkeu, Selasa (10/9/2024).
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 11 – 17 September 2024 Naik Rp 15,94/Kg, Cek Harganya..
Kontribusi signifikan sektor sawit tercermin dalam penerimaan negara. Pada tahun 2023, industri ini menyumbang sekitar Rp88 triliun kepada APBN, terdiri dari pajak sebesar Rp50,2 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp32,4 triliun, dan Bea Keluar Rp6,1 triliun. Pemerintah juga memberikan dukungan perpajakan berupa tax allowance dan pembebasan bea masuk, sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi.
Dengan kapasitas produksi nasional pada tahun 2023 yang diperkirakan mencapai Rp729 triliun, sektor sawit telah melibatkan 2,4 juta petani swadaya dan menciptakan lapangan kerja bagi 16 juta tenaga kerja. Pertumbuhan sektor ini juga mendorong produk domestik bruto (PDB) di sektor perkebunan, yang mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,25% pada Triwulan II 2024, sehingga turut mendongkrak PDB nasional.
Sementara itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) juga berperan penting dalam mendukung pengembangan minyak sawit berkelanjutan, dari hulu hingga hilir. Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana BPDPKS, Kabul Wijayanto mengungkapkan bahwa lembaganya terus mendorong riset terkait pengembangan biodiesel. “Kami fokus pada riset untuk meningkatkan nilai tambah dan inovasi produk hilir, terutama dalam konversi sawit menjadi biodiesel,” ujar Kabul.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode I-September 2024 Turun Tipis Cek Harganya..
Selain itu, BPDPKS juga bekerja sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi untuk melibatkan generasi muda dalam riset yang mendukung produktivitas petani kelapa sawit. (T2)
