Populasi Kumbang Penyerbuk Kelapa Sawit Terancam Akibat Suhu Ekstrim

oleh -4.383 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Elaeidobius kamerunicus (kumbang penyerbuk).

InfoSAWIT, BALI – Dalam sebuah konferensi yang diikuit  para periset dan praktisi industri kelapa sawit, Kepala Departemen Proteksi Tanaman SMART Research Institute, Mohammad Naim menyampaikan presentasi, dan menampilkan sebuah fakta yang mengkhawatirkan. Suhu ekstrem akibat perubahan iklim telah mengancam keberadaan salah satu faktor penting dalam ekosistem perkebunan sawit, kumbang Elaeidobius kamerunicus.

Dalam ajang International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) Series 2025 Hari pertama di Bali Beach Convention, dihadiri InfoSAWIT, Kamis (13/02/2025), Naim mengutarakan bagaimana gelombang panas yang semakin sering terjadi dapat menghambat efektivitas kumbang dalam proses penyerbukan.

“Kumbang Elaeidobius kamerunicus memiliki potensi luar biasa dalam meningkatkan efisiensi penyerbukan, tetapi perubahan iklim bisa menggagalkan semua itu,” ujar Naim dengan nada serius. Ia mengungkapkan bahwa suhu ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah memicu krisis yang dapat berdampak luas terhadap industri sawit.

BACA JUGA: IUCN Sebut Konsumen Butuh Transparansi Keterangan Produk Berbahan Baku Ramah Lingkungan

Data yang ia paparkan cukup mencengangkan. Suhu tertinggi yang tercatat di Filipina mencapai 35 derajat, sementara di Indonesia, terutama di Lampung dan Sumatera Selatan, suhu melonjak hingga 43 derajat Celsius selama lebih dari lima hari berturut-turut.

“Kami menemukan bahwa kumbang ini dapat bertahan pada suhu hingga 30 derajat tanpa perubahan signifikan dalam populasinya. Namun, saat suhu mencapai 43 derajat, semua larva mati dalam waktu singkat,” jelasnya.

Para peserta konferensi pun menyimak dengan serius, mencerna implikasi dari temuan ini. Kumbang penyerbuk yang selama ini menjadi solusi alami dalam efisiensi penyerbukan kini berada dalam ancaman serius. Padahal, perannya sangat krusial dalam menekan biaya penyerbukan yang bisa mencapai Rp 1,8 juta per hektar.

BACA JUGA: Pengelolaan Perkebunan Sawit di Kawasan Hutan, Agroforestri Solusinya

Studi laboratorium yang dilakukan tim Naim menguji empat perlakuan berbeda terhadap kumbang kamerunicus dalam kondisi suhu ekstrem. Hasilnya memperjelas satu hal: suhu tinggi menjadi ancaman nyata bagi perkembangan kumbang penyerbuk. Bahkan, meskipun beberapa individu bisa bertahan pada suhu 15 derajat, tingkat kematian meningkat drastis ketika suhu mencapai ambang batas yang lebih tinggi.

Pertanyaan pun mencuat, jika gelombang panas terus meningkat, bagaimana nasib kumbang ini di masa depan? Lebih jauh lagi, bagaimana nasib industri sawit yang bergantung pada keberadaan mereka?

“Kami masih membutuhkan studi lebih lanjut untuk memahami bagaimana temperatur tinggi mempengaruhi efisiensi dan agresivitas kumbang dalam penyerbukan serta fruit set,” ujar Naim menutup pemaparannya.

BACA JUGA: Pertamina Patra Niaga Ungkap Dua Tantangan Pada Penerapan Mandatori Biodiesel Sawit

Fakta ini memberikan gambaran yang lebih jelas, bahwa tantangan yang dihadapi industri sawit bukan hanya masalah produktivitas dan regulasi, tetapi juga perang melawan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Kini, upaya penyelamatan bukan hanya untuk menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga masa depan industri sawit yang bergantung pada si kecil, kumbang kamerunicus. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com