InfoSAWIT, JAKARTA – Chief Executive Westbury Group dan Ketua Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA), Abdul Rasheed JanMohammad, menyatakan bahwa Pakistan telah mengamankan stok minyak sawit olahan (RBDPO/Olein) untuk kuartal terakhir 2024, memanfaatkan harga forward yang lebih murah pada Agustus dan September. Selain itu, Pakistan juga mengimpor sekitar 150.000 metrik ton minyak kedelai untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak sawit global melonjak signifikan. Penyebab utamanya adalah langkah dana investasi mengambil posisi panjang, pasokan minyak sawit mentah (CPO) yang ketat di Indonesia, serta rencana pemerintah Indonesia untuk meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit dari B35 ke B40. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan bahwa kebijakan ini dapat meningkatkan konsumsi minyak sawit hingga dua juta ton.
Namun, keputusan pemerintah Indonesia untuk mengimplementasikan B40 memicu perdebatan. JanMohammad mempertanyakan urgensi kebijakan ini, terutama di tengah harga CPO yang sudah tinggi dan mendekati bulan Ramadhan yang biasanya mendorong lonjakan permintaan domestik. “Apakah kita perlu meningkatkan campuran ke B40 saat harga minyak mentah sedang lemah? Apakah minyak sawit lebih penting untuk pangan atau bahan bakar?” ungkapnya.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Tipis Pada Senin (17/2), Harga CPO di Bursa Malaysia Naik
Produksi minyak sawit global juga menghadapi tantangan musiman. Periode November hingga Maret dikenal sebagai musim produksi rendah, yang tahun ini bertepatan dengan perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek, Ramadhan, dan Idulfitri. Ditambah lagi, curah hujan tinggi yang diperkirakan melanda Indonesia dan Malaysia selama musim hujan dapat semakin memperketat pasokan.
Di Malaysia, stok minyak sawit pada September 2024 tercatat sebesar 2,013 juta ton. Namun, stok diperkirakan menurun mulai November akibat musim produksi rendah. Harga minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives (MDEX) menunjukkan volatilitas tinggi pada 2024, dengan kisaran tertinggi RM 4.865 per ton pada 1 November dan terendah RM 3.624 per ton pada 3 Januari, mencerminkan fluktuasi sebesar 34,24%. (T2)
