InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Analis minyak sawit dari Godrej International Limited, Dorab E Mistry mengajukan gagasan yang kontroversial, Indonesia sebaiknya mempertimbangkan pencabutan moratorium ekspansi perkebunan sawit.
Usulan ini muncul menyusul fluktuasi harga minyak sawit yang terjadi sepanjang 2024. Sejak Maret, harga mengalami beberapa lonjakan signifikan, dengan puncaknya pada November hingga Desember. Produksi yang lebih rendah dari perkiraan, serta implementasi kebijakan campuran Biodiesel sawit 40% (B40), menjadi faktor utama di balik kenaikan harga ini.
Menurut Mistry, kebijakan B40 yang diterapkan Indonesia telah mengurangi ketergantungan ekspor minyak sawit pada Uni Eropa. Namun, di sisi lain, langkah ini semakin menghubungkan industri sawit dengan pasar energi global. Dengan rencana peningkatan campuran ke B50 dan kebijakan serupa di negara lain, pasokan minyak sawit diperkirakan akan semakin ketat.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (19/5), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Menguat
“Tahun ini sangat berbeda. Minyak sawit yang sebelumnya dikenal sebagai minyak nabati termurah justru mengalami kenaikan harga drastis hingga menjadi minyak nabati premium,” ujar Mistry pada acara konferensi Tahunan POC di Kuala Lumpur, Februari 2025 lalu.
Dalam presentasinya, Mistry menguraikan sejumlah alasan mengapa pencabutan moratorium bisa menjadi langkah strategis bagi Indonesia.
Pertama, produksi minyak sawit global mengalami stagnasi sementara permintaan terus meningkat sekitar 2-3 juta ton per tahun. Kedua, meskipun negara-negara Barat, terutama Eropa, kerap bersikap skeptis terhadap minyak sawit, mereka tetap bergantung pada pasokan dari Asia Tenggara.
BACA JUGA: Kenaikan Pungutan Ekspor CPO Dianggap Jadi Instrumen Fiskal untuk Transisi Energi Biodiesel
Ketiga, tren produksi yang stagnan atau bahkan menurun dapat menyebabkan kenaikan harga yang lebih signifikan di masa depan, sebagaimana yang terjadi pada 2024. Keempat, harga minyak sawit yang tinggi berdampak pada miliaran konsumen di negara berkembang yang bergantung pada produk ini.
Mistry menegaskan bahwa industri sawit telah mengalami banyak perbaikan dalam aspek keberlanjutan. Ia berpendapat bahwa dengan regulasi yang ketat, ekspansi perkebunan sawit tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan lingkungan.
“Melanjutkan moratorium berarti membiarkan harga minyak sawit terus naik, yang pada akhirnya merugikan miliaran konsumen dunia,” tegasnya. (T2)
