InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah gejolak harga global dan perubahan arah pasar ekspor, industri kelapa sawit Indonesia justru melaju kencang pada Maret 2025. Produksi minyak sawit mentah (CPO) melonjak 15,9% dari bulan sebelumnya, mencapai 4,39 juta ton, sementara produksi minyak inti sawit (PKO) turut menanjak ke angka 417 ribu ton. Secara total, produksi gabungan CPO dan PKO tembus 4,81 juta ton—pertumbuhan bulanan yang tak bisa diabaikan.
“Peningkatan produksi ini dipicu oleh perbaikan cuaca dan masuknya masa panen yang lebih optimal di beberapa sentra produksi,” ujar Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dikutip InfoSAWIT dari dalam laporan bulanan GAPKI, pada Sabtu (31/5/2025).
Konsumsi dalam negeri pun ikut naik, terutama didorong oleh sektor biodiesel dan bahan pangan. Dari total konsumsi domestik sebesar 2,15 juta ton, sekitar 1,07 juta ton digunakan untuk biodiesel, naik dari 1 juta ton di Februari. Konsumsi untuk pangan juga naik signifikan menjadi 889 ribu ton.
BACA JUGA: Cuaca Kering dan Dingin Dukung Percepatan Panen Kedelai di Argentina
“Permintaan untuk biodiesel terus stabil karena dukungan kebijakan B35. Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan industri terhadap energi terbarukan,” jelas Mukti.
Tak hanya pasar dalam negeri, ekspor produk sawit juga menunjukkan geliat positif. Volume ekspor keseluruhan pada Maret 2025 mencapai 2,88 juta ton, naik dari 2,8 juta ton di bulan sebelumnya. Kenaikan tajam terjadi pada ekspor olahan PKO yang melesat 49%, serta olahan produk sawit lainnya dan oleokimia.
Namun tak semua tujuan ekspor memberi kabar baik. Empat negara tujuan utama—China, India, Pakistan, dan Bangladesh—justru mencatat penurunan permintaan. Ekspor ke India, misalnya, turun hampir 30%, dari 387 ribu ton menjadi hanya 271 ribu ton.
BACA JUGA: Kolaborasi Internasional Dorong Sawit Berkelanjutan di Rokan Hulu, Libatkan Pekebun Swadaya
“Penurunan ini kemungkinan besar disebabkan oleh faktor stok domestik mereka yang masih tinggi dan penyesuaian kebijakan tarif,” kata Mukti.
Sebaliknya, negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat justru menunjukkan lonjakan permintaan. Ekspor ke Uni Eropa naik dari 298 ribu ton menjadi 343 ribu ton, dan ke AS melonjak dari 153 ribu ton menjadi 249 ribu ton—kenaikan yang cukup langka dalam tren perdagangan sawit selama beberapa tahun terakhir.
