“Ini menunjukkan bahwa produk sawit olahan Indonesia tetap kompetitif dan semakin diterima di pasar yang dikenal ketat terhadap isu keberlanjutan,” ujar Mukti.
Dari sisi nilai, ekspor pada Maret menyentuh angka US$ 3,28 miliar atau sekitar Rp 54,1 triliun. Nilai ini naik 2,84% dari Februari, didorong oleh kenaikan harga CPO internasional dari US$ 1.232 menjadi US$ 1.251 per ton (cif Rotterdam), serta menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah.
Dengan tren ekspor yang tumbuh dan konsumsi domestik yang meningkat, stok akhir bulan Maret pun menurun menjadi 2,036 juta ton—turun 213 ribu ton dibandingkan bulan sebelumnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 30 Mei – 5 Juni 2025 Turun Rp38,83 per Kg
“Penurunan stok ini bisa menjadi sinyal positif bagi harga dalam negeri. Ini juga menunjukkan bahwa pasokan terserap dengan baik oleh pasar, baik lokal maupun ekspor,” pungkas Mukti.
Laju pertumbuhan di bulan Maret ini membawa angin segar, tetapi pelaku industri tetap waspada. Volatilitas pasar global, kebijakan proteksionis, dan sentimen negatif terhadap sawit masih membayangi. Namun untuk saat ini, industri sawit Indonesia boleh bernapas lega—setidaknya satu bulan penuh telah dilalui dengan catatan emas. (T2)
