InfoSAWIT, JAKARTA — Industri sawit nasional kembali menghadapi tantangan di pasar ekspor. Data terbaru yang dirilis Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan ekspor produk sawit pada April 2025 mengalami penurunan signifikan baik dari sisi volume maupun nilai.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, mengungkapkan bahwa total ekspor produk sawit Indonesia pada April hanya mencapai 1,779 juta ton, turun drastis 39,2% dibandingkan Maret yang mencatatkan angka 2,876 juta ton.
“Penurunan terbesar terjadi pada ekspor produk minyak sawit olahan yang hanya mencapai 1,241 juta ton, turun 41,7% dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,128 juta ton,” jelas Mukti, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Kamis (26/6/2025).
BACA JUGA: Produksi CPO Naik di April 2025, Konsumsi Domestik Justru Menurun
Selain itu, ekspor oleokimia juga mengalami koreksi menjadi 368 ribu ton, turun 9,6% dari Maret yang sebesar 407 ribu ton.
Berdasarkan negara tujuan, penurunan ekspor terbesar pada April dibandingkan Maret terjadi untuk kawasan Uni Eropa (-156 ribu ton), India (-155 ribu ton), Amerika Serikat (-113 ribu ton), Pakistan (-109 ribu ton), dan Bangladesh (-86 ribu ton).
Secara tahunan, total ekspor produk sawit sepanjang Januari hingga April 2025 mencapai 9,416 juta ton, menurun 3,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,715 juta ton. Penurunan paling mencolok terjadi pada ekspor ke India yang merosot hingga 1,055 juta ton (-68%), diikuti Uni Eropa (-818 ribu ton/-62%), Tiongkok (-746 ribu ton/-62%), dan Pakistan (-385 ribu ton/-42%).
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Dorong Ketahanan Pangan Lewat Perkebunan Regeneratif dan Diversifikasi Usaha
Dari sisi nilai, ekspor pada bulan April tercatat sebesar US$ 2,069 miliar, juga turun tajam 37% dibandingkan Maret yang mencapai US$ 3,283 miliar. Meski demikian, Mukti menyebutkan bahwa secara kumulatif nilai ekspor selama Januari-April 2025 justru menunjukkan tren positif.
“Nilai ekspor Januari-April naik dari US$ 8,307 miliar di tahun 2024 menjadi US$ 10,818 miliar pada tahun 2025 atau tumbuh sekitar 30,2%. Hal ini didorong oleh peningkatan harga rata-rata produk CPO,” ujarnya.
Sepanjang empat bulan pertama 2025, harga rata-rata CPO di pasar internasional (CIF Rotterdam) tercatat sebesar US$ 1.183 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode yang sama pada 2024 yang hanya sebesar US$ 1.001 per ton.
BACA JUGA: ITS Hadirkan Tiga Inovasi Sawit Berkelanjutan, dari Robot Deteksi Penyakit hingga Gerobak Listrik
Kendati nilai ekspor masih menunjukkan pertumbuhan secara tahunan, tren penurunan volume pada bulan April menjadi perhatian serius. Melemahnya permintaan dari pasar utama seperti India, Uni Eropa, dan Tiongkok dapat menjadi sinyal perlunya strategi penetrasi baru, sekaligus memperkuat diplomasi dagang untuk menjaga daya saing produk sawit Indonesia di pasar global. (T2)
